Opini

Sufisme dalam Pemikiran Jurgen Habermas

Oleh: Muniri, S.HI, M.HI

Imam Alghazali, dalam karya besarnya Ihya’ ‘Ulum ad-Din menjelaskan tentang tingkatan tauhid. Menurutnya, ada empat tingkatan tauhid. Pertama, seseorang mengakui ke‐Esaan Allah dengan lisan tapi tidak dengan hati. Kedua, meyakini ke-Esaan Allah dengan hati. Ketiga, menyaksikan ke‐Esaan Allah dengan cara menyingkapnya melalui cahaya kebenaran. Keempat, seseorang tidak melihat eksistensi kecuali ke‐Esaan.

Tingkatan yang ketiga dan keempat menarik untuk dikaji. Khusus tingkatan tauhid yang ketiga, sepertinya Alghazali menempatkan penyaksian ke-Esaan Allah melalui cahaya kebenaran, tingkatannya berada di atas orang yang menyatakan ketauhidannya dengan terpaksa, dan yang merasa mantap dengan tauhidnya hanya di level hati tapi tidak berefek pada lingkungan ekternalnya.

Sesungguhnya yang membedakan tingkatan tauhid nomer satu, dua dan tiga, hanya tentang upaya “refleksi”, namun refleksi inilah yang membedakan kualitas kebenaran. Tentu orang yang meyakini ke-Esaan dengan hatinya, selanjutnya direfleksikan akan menghasilkan cahaya kebenaran yang sesuai dengan kaidah-kaidah filosofis. Artinya, keyakinan tentang ke-Esaan yang diakuinya bukan merupakan taqlid buta (ikut-ikutan saja), melainkan dari sebuah usaha pemikiran reflektif yang melahirkan sebuah kebenaran yang bebas dari hambatan ideologis.

Hambatan-hambatan ideologis banyak sekali macamnya, bisa karena menganggap agamanya yang paling benar, etnisnya, marganya, sukunya yang paling unggul dan lain sebagainya. Padahal hambatan ideologis ini, cendrung membuat seseorang masih jauh dari kebeningan batin. Efeknya, perjalanan spritual seseorang selalu membutuhkan pengakuan-pengakuan yang orientasinya untuk menaklukkan lingkungan ekternalnya. Dengan seperti ini, tanpa sengaja pejalan spiritual terjatuh dalam kepentingan teknis (masih dipengaruhi nafsu hewani).

Pada titik pemikiran reflektif yang membebaskan manusia dari hambatan ideologis, penulis mencoba menghubungkannya dengan konsep rasio kritis Habermasian. Menurut Jurgen Habermas, manusia mempunyai tiga kepentingan. Pertama, kepentingan teknis. Yang biasa digunakan oleh manusia untuk menaklukkan lingkungan ekternalnya melalui perantara kerja. Dengan kerja, seseorang membedakan dirinya dengan lingkungan ekternalnya. Tujuannya adalah penguasaan, tidak hanya dengan alam, tapi juga dengan manusia lainnya.

Yang kedua, kepentingan praktis. Kepentingan ini digunakan manusia dalam menjalin kesaling pahaman timbal balik antara manusia satu dengan lainnya. Kepentingan praktis ini lebih beradab daripada kepentingan teknis. Jika kepentingan teknis berlaku hubungan Subjek-objek (manusia dan lingkungan ekternalnya), dalam kepentingan praktis berlaku hubungan subjek-subjek, manusia yang satu dengan lainnya disejajarkan posisinya sehingga ada komunikasi interaktif.

Komunikasi akan berjalan baik dan efektif, hanya akan terjadi apabila antara manusia satu dan lainnya disejajarkan kedudukannya. Dengan berpedoman; “Saya tidak lebih baik dari kamu, dan kamu tidak lebih baik dari Saya”. Semua manusia sama dalam keragamannya, mempunyai akal pikir dan perasaan. Dan sejatinya tidak ada satupun produk-produk pemahaman sosial-budaya (hambatan ideologis) yang bisa membatasi kemerdekaan seseorang sebagai manusia.

Kepentingan yang ketiga, adalah kepentingan emansipatoris. Pada kepentingan emansipatoris inilah, pemikiran Habermas dapat dipertautkan dengan konsep tingkatan tauhid Ghazalian yang nomer empat (seseorang tidak melihat eksistensi kecuali ke‐Esaan). Asumsi tingkatan tauhid ini, menganggap sesuatu selain Allah adalah sesuatu yang diadakan oleh Allah, bukan yang hakiki, yang hakiki hanya Allah sebagai dzat yang mengadakan. Sekurang-kurangnya dari pemahaman seperti ini, akan menjadikan pejalan spiritual terbebaskan dari hambatan ideologis. Ia tidak lagi merasa agamanya paling benar, dan menganggap etnisnya, marganya, sukunya yang paling unggul dan lain sebagainya. Semuanya sama sebagai makhluk yang diadakan oleh yang meng-adakan yaitu Allah.

Jika pemahaman ini diimplementasikan dalam hubungan sosial, maka komunikasi yang terjadi tentu bersifat genuine, suatu komunikasi yang tidak terdistorsi oleh hambatan ideologis komunikatornya. Jika diupayakan untuk menghasilkan sebuah konsensus, maka konsensus yang lahir dari nuansa relasi sosial yang sedemikian rupa, tentu selaras dengan kepentingan bersama, demi sebuah kebaikan bersama. Tentu orang yang sudah bisa bebas dari hambatan ideologisnya, dapat memaknai kehadiran hanyalah yang Tunggal. Ia memandang yang ada di langit dan bumi hakikatnya berasal dari Sang Tunggal, yaitu Allah SWT. Karena semua berasal dari Allah, maka tak ada perbedaan warna, tinggi‐rendah, kaya‐miskin, barat‐timur, bahkan baik‐buruk, yang ada hanya semangat untuk menciptakan kebaikan bersama. Inilah tindakan emansipatoris. Dan inilah sejatinya ke-Esaan. Wallahu a’lam bi Alshawaab

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close