Pendidikan

Semarak saat Ujicoba Modul Psikoedukasi Prevensi Intensi Pernikahan Dini

Lanjutan dari kegiatan penyusunan modul psikoedukasi prevensi intensi pernikahan dini, pada tanggal 27 Januari 2020. Fasilitator melakukan ujicoba modul serentak kepada siswi-siswi di beberapa Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SMP/MTs), antara lain di SMPN 1 Burneh, MTs Darul Hikmah, SMP Sunan Ampel, SMP Kanzul Ulum, dan SMP Darul Hikmah.

Saat dilakukan ujicoba modul ini, awalnya siswi-siswi cukup antusias, namun saat penyampaian modul 4 dan 5 siswi-siswi mulai mengalami kejenuhan, mungkin karena banyaknya materi modul yang disampaikan sekaligus.

Sebenarnya, nanti pada saat dilakukan intervensi yang sesungguhnya, modul disampaikan satu hari satu modul, berikut pre test dan pos test-nya, boleh satu hari dua modul khusus untuk penyampaian modul 4 dan 5 yang bahasannya sedikit.

Pemberian batasan ini, agar modul dapat tersampaikan dengan maksimal. Dan juga penyampaian modul 1 dan 2 harus disampaikan oleh fasilitator perempuan karena memuat tentang kesehatan reproduksi.

Ada temuan menarik saat ujicoba modul, siswi-siswi sepakat bahwa pembuktian cinta tidak harus dengan menyerahkan keperawanan, sebagian siswi tidak canggung menyebutkan organ seksual manusia dalam bahasa Madura seperti payudara, sperma, dan sebagainya. Pada poin keperawanan, rata-rata siswi tidak tahu apa itu selaput dara dan juga merekapun bertanya banyak tentang semua hal terkait dengan keperawanan.

Untuk modul 4 dan 5 disampaikan mengenai komunikasi sosial dan perilaku asertif, rata-rata laporan dari fasilitator mengatakan bahwa penyampaiannya tidak maksimal, karena siswi-siwi sudah jenuh, tapi untungnya mereka masih banyak yang mau memperhatikan.

Catatan dari fasilitator tentang modul psikoedukasi prevensi intense pernikahan dini ini, sudah bagus. Hanya saja, perlu yang cukup waktu saat di kelas, karena minimnya waktu tersebut saat ujicoba modul teman-teman fasilitator loncat-loncat penyampaiannya. Ada game menyusun korek api, sepertinya kurang asyik, sepertinya perlu diganti dengan game yang lain, mungkin puzzle atau menyusun guntingan kardus menjadi menara.

Semua masukan dari fasilitator terkait dengan materi modul, kebutuhan waktu, dan usulan ganti game menjadi catatan yang berarti bagi tim pendamping dari LSM Konsensus Bhiruh Dheun, dan tentu sangat membantu menjadikan modul ini lebih baik dan program psikoedukasi berjalan dengan baik pula. (Moon)

siswi-siswi SMPN 1 Burneh Kabupaten Bangkalan
Siswi-siswi SMP Darul Hikmah Burneh Bangkalan antusian mendengarkan Mbak Hidayah menyampaikan modul psikoedukasi prevensi intensi pernikahan dini
Fasilitator berfoto bersama dengan siswi-siswi SMP Kanzul Ulum setelah usai ujicoba modul
Gus Azizy sedang menyampaikan modul 4 ke siswi-siswi SMP Sunan Ampel Burneh Bangkalan
Antusiasme siswi-siwi MTs Darul Hikmah Burneh Bangkalan mendengarkan fasilitator menyampaikan modul

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close