Advokasi

PUASANYA ORANG HAMIL DAN MENYUSUI (Kisah Refleksi seorang Santriwati di Tengah Pandemi Virus Corona)

Dr. Holilur Rohman, M.HI

Sudah 1 bulan dia pulang dari pondoknya. Bukan karena ingin pulang, tapi karena “terpaksa” pulang karena ada pandemi virus corona. Di pondok dia dikenal rajin mengaji, rajin beribadah, tak pernah lewat dalam satu hari tanpa mengaji Alqur’an dan mutalaah kitab kuning, kecuali ketika dia sedang “berhalangan”. Dia dikenal dermawan, supel, baik hati, dan care dengan teman-temannya. Dia juga sangat hormat dan patuh pada ustazahnya di pondok, dan orang tuanya di rumah.

Suatu hari, santriwati itu merenung sendiri di teras rumahnya. Setelah pulang dari pondok karena pandemi corona, aktifitasnya lebih banyak membaca kitab kuning, Ngaji Alquran, baca novel, dan sesekali menonton film kesukaannya.

Hingga suatu saat di merenung dan berfikir, bagaimana puasanya orang yang hamil dan menyusui ya? Entah dari mana pertanyaan itu tiba-tiba muncul, barangkali karena terinspirasi dari sebuah film yang baru ditontonnya, yang menayangkan betapa beratnya Ibu Hamil dan menyusui, sampai Alqru’an pun memberi gambaran:

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسٰنَ بِوَالِدَيْهِ ۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِـوَالِدَيْكَ ؕ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”
(QS. Luqman: Ayat 14)

Sebagai seorang santri tulen, dia tak lantas ambil jalan pintas mencari jawabannya di internet apalagi berdasarkan penjelasan dari sumber yang tidak jelas. Di teringat salah satu kitab yang menjadi favoritnya di Pondok, yaitu Al-Fiqh ala Mazahib al-‘Arba’ah karya Syeik Abdurrahman al Jaziri. Di antara empat juz kitab, dia ambil juz pertama dari rak bukunya, karena pada juz tersebut dibahas tentang Bab Ibadah, termasuk bab puasa.
Si santriwati mulai membuka lembar demi lembar kitab tersebut, sampai akhirnya pada halaman 520, terdapat penjelasan tentang “Khouful Hamil wal Murdi al-Darar min al-Shiyam” (kehawatiran ibu hami dan menyusui ketika pausa).

Di dalam ktiab tersebut dia mendapatkan kesimpulan bahwa: Empat Mazhab sepakat bahwa perempuan hamil atau menyusui diberikan keringanan untuk tidak puasa. Akan tetapi perbedaanya terletak pada kewajiban sebagai ganti adanya rukhsah tersebut:

  1. Bagi perempuan hamil

a. Jika hawatir terjadi bahaya pada dirinya sendiri atau diri dan anaknya sekaligus, maka dia wajib mangqada’ puasa di hari lain tanpa bayar fidayah menurut kesepakatan empat mazhab

b. Jika hawatir terhadap anaknya saja, maka dia wajib mengqada’ puasa di hari lain dan wajib membayar fidyah menurut mazhab Syafi’i dan Hanbali. Sedangkan menurut mazhab Maliki dan Hanafi, dia wajib mengqada tanpa bayar fidyah

2. Bagi perempuan menyusui

a. Jika hawatir terjadi bahaya pada dirinya sendiri atau diri dan anaknya sekaligus, maka dia wajib mangqada’ puasa di hari lain tanpa bayar fidayah menurut mazhab Syafi’I, Hanafi, dan hanbali. Sedangkan menurut mazhab Maliki, dia wajib qada’s ekaligus bayar fidayah

b. Jika hawatir terhadap anaknya saja, maka dia wajib mengqada’ puasa di hari lain dan wajib membayar fidyah menurut mazhab Syafi’I, Maliki, dan dan Hanbali. Sedangkan menurut mazhab Hanafi, dia wajib mengqada tanpa bayar fidyah.

Setelah membaca pendapat empat mazhab, si santriwati merasa lega dan bangga, bahwa agamanya, agama Islam adalah agama yang ramah dann mudah bagi umat Islam khususunya bagi ibu hami dan menyusui. Islam memberikan kabar gembira bagi keduanya dengan memberikan rukhsah agar beratnya “beban” yang dipikul ibu hamil dan menyusui tidak bertambah berlipat-lipat.

Kewajiban qada’pun tidak harus dilakukan secara segera, melainkan bisa ditunaikan ketika keduanya sudah mampu melakukannya.

Adanya fidyah bukanlah beban bagi keduanya, melainkan sebagai bentuk syukur seorang hamba karena Allah telah menganugerahinya anak yang sangat ditunggu dan dibanggakannya, di mana tidak semua orang diberikan amanah anak dengan mudah, terkadang ada orang yang harus berjuang dengan bermacam cara, mulai yang mudah sampai yang sulit, mulai yang berbiaya murah sampai yang biayanya selangit.

Setelah selesai membaca kitab, dia melanjutkan membuka mushaf alqur’an, lalu mulai melantunkannya dengan suara merdu dan tartil, sampai akhirnya dia berhenti, terdiam dan terpaku, sambil air matanya tak kuasa menetes karena terharu dengan makna dan kandungan ayat Al-qur’an:

لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ

… Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya (QS. Albaqarah ayat 233)
Dia pun berkata lirih “Ya Allah… betapa indahnya agama-Mu, agama Islam yang selalu “mengerti” keadaan hamba-Nya, yang tak pernah abai dan selalu memperhatikan hamba-Nya, yang selalu menghujani sejuta kebaikan untuk hamba-Nya”

Tak puas dengan ayat tersebut, dia pun mencoba mengingat-ingat ayat lain yang punya kandungan yang sama, sampai akhirnya dia menemukan ayat yang sungguh luar biasa:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.

Hari ini si santriwati merasa puas dengan apa yang dibacanya hari ini, disertai renungan dan refleksi panjang yang menghiasanya harinya. Dia pun istirahan dan merebahkan badannya di kasur, sampai akhirnya dia terlelap tidur, karena baginya, tidurnya orang berpuasa bernilai ibadah. Wallahu a’lam bi al-Shawaab

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close