Opini

Penataan Diri dan Penyelarasan Diri; Sebuah Alternatif Penyembuhan

Muniri, S.HI, M.HI

Konon Tuhan menyediakan obat di alam semesta ini, bahkan penyakit yang ganas sekalipun pasti ada obatnya, perkara masih belum ada obatnya, kita berhak berpikir positif bahwa obatnya sudah ada, namun masih belum ditemukan. “Setiap penyakit pasti ada obatnya” (likulli daa’in syifaa’un), itu sebuah kata pepatah yang diyakini turun-temurun, dan menjadi sugesti para dokter untuk mencari obat dari sekian penyakit yang menimpa manusia.

Dalam pembahasan di bawah ini, akan dikaji sekitar penyakit mental (psiko). Menurut asumsi umum, penyakit mental sulit dideteksi oleh dokter profesional sekalipun. Namun, setidaknya, walaupun sulit terdeteksi, pastinya tetap ada obatnya, sama dengan penyakit fisik/jasmani. Bedanya, ada pada penanganan, kalau sakit jasmani memakai pil atau jamu, dan berobat pada dokter jasmani. Sedangkan sakit mental berobatnya pada psikiater atau para ulama shufi yang ahli penyembuhan penyakit mental.

Dalam konsepsi pramodern, manusia dibagi atas tiga entitas, corpus, animus, dan spiritus (Adlin, A., dan I. Suryolaksono, 2000). Animus berasal dari bahasa Yunani anemos yang bermakna sesuatu yang hidup (bernafas) yang ditiupkan ke dalam corpus (wadah atau bungkus). Maka corpus adalah body (raga/jasad); dan spiritus adalah spirit (ruh); dan animus identik dengan psyche yang bermakna soul (jiwa/nafs). Dalam perkembangannya, istilah jiwa mengalami penyempitan makna. Jiwa dalam terminologi psikologi modern lebih ke aspek psikis, dimana aspek psikis ini lebih merupakan riak gelombang permukaan di atas lautan dalam yang disebut jiwa.

Dalam terminologi Qur’aniyah, struktur manusia dirancang sesuai dengan tujuan penciptaan itu sendiri, dimana jiwa (soul) yang dalam istilah Al-Quran disebut nafs menjadi target pendidikan Ilahi. Istilah nafs didalam Islam sering dikacaukan dengan apa yang dalam bahasa Indonesia disebut hawa nafsu, padahal istilah hawa dalam konteks Qur’ani memiliki wujud dan hakekat tersendiri. Aspek hawa dalam diri manusia berpasangan dengan apa yang disebut sebagai syahwat. Sedangkan apa yang dimaksud dengan an-nafs amara bissu’ dalam surat (Yusuf [12]: 53) adalah “nafs (jiwa) yang belum dirahmati Allah SWT”.

Sedangkan “Hawa”, merupakan kecenderungan-kecendrungan diri kepada yang lebih bersifat non-material, yang berkaitan dengan eksistensi dan harga diri, persoalan-persoalan yang wujudnya lebih abstrak. Hawa merupakan entitas, produk persentuhan antara nafs dan jasad. Sedangkan syahwat merupakan kecenderungan manusia pada aspek-aspek material (Ali Imran [3]: 14), dan ini bersumber pada jasad insan yang wujudnya memang disusun berdasarkan unsur-unsur material bumi (air, tanah, udara, api).

Berbeda dengan hawa. Yang disebut sebagai “Nafs” manusia mengalami ujian berkali-kali di antara dua kutub, kutub jasmaniah yang berpusat di jasad dan kutub ruhaniyah yang berpusat di Ruh al-Quds. Ar-Ruh ini beserta tiupan dayanya (nafakh ruh) merupakan wujud yang nisbatnya ke Martabat Ilahi dan mengikuti hukum-hukum alam Jabarut. Aspek ruh ini tetap suci dan tidak tersentuh oleh kelemahan-kelemahan material dan dosa, spektrum ruh merupakan sumber dari segala yang “ada” di alam syahadah ini.

Pembahasan struktur manusia dalam terminologi Qur’an yang dipaparkan di atas, selaras dengan konsep jiwa dalam perspektif psikologi modern. Di mana dijelaskan, terdapat fenomena Id, Ego, dan Superego dalam struktur kesadaran manusia. Ketiganya saling berhubungan, dan sebagai penyeimbang adalah “Ego”. Disitulah masalah sesungguhnya yang perlu diselaraskan. Selama seseorang belum selaras di semua level, baik Id, Ego, dan Superegonya, maka lebih baik jangan berusaha berangkat keluar untuk menata dan menyelaraskan sesuatu di luar diri. Memilih lebih fokus pada penataan dan penyelarasan diri (wujud aksi ke dalam) adalah pilihan terbaik, karena bila diri-diri tertata dan selaras dengan baik. Maka efeknya, orang akan lebih bijaksana dalam menanggapi seseorang, dan pada kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh diri dan orang lain.

Penataan dan penyelarasan diri dapat berjalan baik dengan bersikap “ikhlas” dalam menjalani hidup, dengan selalu berpikir positif bahwa hidup ini indah dan mengarah pada sebuah realitas yang lebih baik, terhadap diri maupun lingkungan sekitar. Dengannya pula, seseorang akan lebih tertib, sehingga proses individuasi yang disebabkan oleh potensi-potensi asli mengarah pada tujuan tertentu, menuju ke suatu keutuhan psikis yang lebih kokoh dan meningkatnya daya rasa (intuisi) yang menyatu dengan semua yang ada. Wallahu a’lamu bi Al-Shawaab

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close