Sejarah & Budaya

Nyelasé ke Bhuju’; Lahirnya Budaya Patronase Spiritual

Oleh: Muniri, S.HI, M.HI (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun)

Sekilas Tentang Nyelasé

Nyelasé merupakan praktik keagamaan, hasil dari pengayaan nilai-nilai agama yang berpadu dengan unsur lokal. Mengunjungi tempat-tempat keramat atau makam tokoh yang dianggap mempunyai jasa besar dalam kehidupan mereka, seperti; pahlawan, raja, ilmuan, orang tua, dan sahabat. Biasanya, nyelasé ke makam mereka, dalam rangka untuk mengenang jasa-jasa semasa hidupnya.

Ada juga dengan motif ganda, seperti nyelasé ke makam para Wali dan Nabi, selain mengenang untuk perjuangan mereka dalam menyebarkan Agama, juga dengan niatan mendapatkan berkah dari Yang Maha Kuasa melalui wasilah para Nabi dan Wali.

Di Indonesia praktik nyelasé sangat marak, karena berpadu dengan satu paket kegiatan wisata. Hal ini, bisa dilihat tulisan di pintu gerbang masuk makam-makam keramat, biasanya ada tulisan “wisata religius”, dan nama wali/raja dicantumkan setelahnya.

Berpadunya praktek nyelasé dengan kegiatan Wisata, menjadi bukti bahwa agama di samping menjadi media peningkatan religuisitas, juga pelengkap struktur institusi sosial yang dapat menyatukan aspirasi-aspirasi dari beragam kalangan.

Orang Madura dan Rasa Keagamaan

Orang Madura, mempunyai rasa keagamaan yang kuat sejak zaman Hindu Budha. Sebagai buktinya, banyak temuan purba kala yang diprediksikan merupakan koleksi orang Madura sejak zaman animisme dan dinamisme.

Temuan tersebut berupa peninggalan bangunan megalitik berupa bato kennong  (Batu Kenong) atau bato egghung  (batu gong) dan menhir di pulau Sapudi Sumenep, yang ditengarai salah satu bentuk bangunan yang mengekspesikan keagamaan yang kental, bahkan nama-nama desa, kampung, atau dukuh sampai sekarang bernama Candi, Mandala, dan Sema. Nama-nama tersebut menunjukkan adanya tapak-tapak untuk kegiatan keagamaan.

Sementara di Bangkalan, yang dulunya masuk wilayah Madura Barat, ada banyak temuan, semisal Lingga yang berdasarkan tahun pembuatan tertera 1151 Caka/1229 M, situs candi, gua lengkap dengan candra sengkela memet, Arca Siwa,  Arca Dhayani Budha, bekas Gapura bekas pintu masuk Kraton kuno, arca Ghanesa, dan banyak lagi yang lainnya.

Hingga masa perkembangan Islam di Madura merata, dan diterima secara luas oleh semua elemen masyarakat. Sampai saat ini, rasa keagamaan orang Madura masih cukup kental, hal tersebut bisa diamati saat dilangsungkan acara-acara keagamaan berdasar hitungan bhulen becce’ (hitungan bulan baik).

Perayaan yang dilakukan oleh masyarakat Madura, sebagai ekspresi dari rasa keagamaan yang tinggi tidak hanya berdasar dari hitungan bhulen becce’ saja, bahkan kegiatan mingguan seperti nyelasé setiap malam Jum’at ke makam-makam Bhuju’ dan Bhengetoah hingga saat ini, masih dilestarikan.

Patronase Spiritual

Ada juga wujud rasa keagamaan orang Madura yang satu kesatuan dengan nyelasé, berupa bangunan magis. Setiap wilayah atau per desa, bahkan per dusun, biasanya ada bangunan berupa makam keramat, yang orang Madura biasa menyebutnya; makam Bhuju’.

Bhuju’ adalah sebutan pada sesepuh dusun, desa atau wilayah setempat yang sudah meninggal, dan sangat berjasa di masa hidupnya. Yang mendapatkan sebutan Bhuju’, tidak harus berjasa dalam penyebaran agama, jasanya bisa dalam bidang apapun yang menyangkut kebaikan dan kenyamanan orang banyak. Selain itu, dilengkapi kesaktian berupa mandih pengucap (ucapannya gampang terkabul), bisa membaca isyarat alam, dan tempat curahan hati masyarakat setempat.   

Fenomena keberadaan Bhuju’ termasuk unik, ini disebabkan masyarakat kala itu masih kental dengan kesadaran magis (menyangkut kegaiban). Sebagaimana kesadaran magis terjadi karena kurangnya atau belum terpakainya kesadaran naif (menyangkut potensi keseorangan), bahkan kesadaran kritis (menyangkut sistem).

Penanda zaman sedemikian rupa, tentu dikarenakan masyarakat belum mengedepankan penalaran ilmiahnya, yang lebih mengedepankan penalaran induktif (inductive reasoning) dibandingkan dengan penalaran deduktif (deductive reasoning). Akibatnya, sering terjatuh dalam generalisasi pemaknaan, dengan menganggap semua adalah magis.

Kemungkinan kesadaran magislah yang melahirkan budaya patronase. Pemberian status istimewa kepada orang yang dianggap berjasa di masa hidup, hingga tercerap dalam keyakinan bahwa orang tersebut (Bhuju’) dianggap menjadi wasilah (perantara) kepada Tuhan yang Maha Esa. Lebih tepat kalau dibahasakann, bahwa kesadaran magis melahirkan budaya patronase spiritual.

Dampak Negatif dan Positif Patronase Spiritual

Bisa jadi, fenomena Bhuju’ yang ada di setiap wilayah, per desa, hingga per dusun efek dari dominasi kesadaran magis saat itu, sehingga otomatis melahirkan budaya patronase spiritual.

Namun, dalam tulisan ini. Saya menghindari pembicaraan benar salah, karena ini menyangkut persepsi manusia dan sejarahnya berhubungan dengan ekspresi rasa keagamaannya yang sangat pribadi. Di titik ini, hanya berlaku kebenaran subjektif, dan pertanggung jawaban juga bersifat subjektif.

Hanya saja, menarik dibincangkan tentang efek patronase spiritual ketika dihubungkan dengan ranah sosial, ekonomi, dan politik. Maka isunya sangat rentang manipulatif dan pelanggengan kebodohan publik. Bukankah sering ada kejadian seorang tokoh yang melakukan eksploitasi publik dengan jualan nasab (keturunan), tapi publik diam karena takut mendapatkan murka dari leluhurnya?

Sedangkan sisi positif dari adanya patronase spiritual. Berhubungan dengan rasa keagamaan yang nuansanya subjektif, seseorang pada tingkatan batin tertentu membutuhkan wasilah untuk membangun keintiman dengan Tuhan-Nya. Entah, patronase spiritualnya orang tuanya sendiri, guru spiritual yang masih hidup, atau bahkan guru spiritual yang sudah wafat.

Kebutuhan wasilah dari patronase spiritual, selebihnya dapat meredam kepongahan diri, bahwa diri membutuhkan media orang lain yang nir-kepentingan saat diri mengalami kegalauan batin. Kita membutuhkan patronase spiritual semacam itu, seperti butuhnya ikan pada air, dan butuhnya tetumbuhan pada sinar Matahari. Wallahu a’lam bi al-Shawaab

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close