Sejarah & Budaya

Nogo Temanten: Feminisme dalam Dunia Perkerisan

Oleh: Muniri, S.HI, M.HI (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun)

Keris dengan bentuk dua kepala ular naga di bagian bawah sor-soran ada yang menyebutnya Nogo Kembar. Tapi lebih banyak yang menyebutnya Nogo Pengantin (Nogo Temanten). Dari bentuknya ini, digambarkan sepasang ular Naga saling berpasangan, menunjukkan keharmonisan pengantin yang melebur menjadi satu. Sayangnya, Sedikit sekali ulasan tentang Pusaka Keris Nogo Temanten ini.

Ulasan tentang pusaka Keris Nogo Temanten, lebih banyak menonjolkan tentang makhluk mitologi Jawa yang identik dengan dunia spiritual, dan melambangkan kekuatan besar dan kuat. Tidak ada satupun ulasan yang menghubungkan pusaka Keris Nogo Temanten ini dari sisi kajian feminisme, karena memang pusaka keris lebih dekat dengan identitas maskulinitas. Jadi, walaupun ada tokoh perempuan di masa lalu yang mempunyai atau membawa pusaka dalam perjuangannya, ulasan tentang pusaka yang dibawa tidak menjadi sorotan kajian. Misalnya, Pangeran Dipenogoro sangat masyhur dengan pusaka Nogo Siluman. Kalaupun ada Cut Nyak Din yang membawa pusaka, ulasan hanya tentang sosoknya sebagai pejuang perempuan, bukan senjata yang di bawanya.

Walaupun pusaka keris dan jenis pusaka lainnya pembuatannya diperuntukkan untuk semua jenis kelamin. Tapi penamaan bagian-bagian keris masih kental dengan aroma  maskulinitas. Pusaka Keris Nogo Temanten menjadi satu-satunya perwakilan pusaka keris yang menampilkan simbol feminim, seolah menjadi simbolisasi tentang kesetaraan gender. Jelas sekali, dari bentuk Keris Nogo Temanten menempatkan Naga Feminim sejajar penempatannya dengan Naga Maskulin. Biasanya yang menghadap ke depan disebut Nogo Maskulin, yang menghadap ke dalam adalah Nogo Feminim, dua kepala tidak menyatu hanya di bagian dada atau ekor yang menjadi satu. Kesejajaran posisi kepala Nogo inilah yang mengandung arti kesetaraan gender, hanya beda dalam peran saja.

Pusaka Keris Nogo Temanten seolah menjadi satu titik tolak gerakan budaya dan sosial yang bermain di area simbol yang beraroma feminisme. Bisa saja tujuannya untuk mendefinisikan, membangun, dan mencapai kesetaraan gender dalam lingkup budaya dan sosial. Dunia perkerisan yang notabene identik dengan kuasa patriarki, mulai pembuat, simbol-simbolnya, serta ulasan kesejarahannya melekat dengan maskulinitas. Pusaka Keris Nogo Temanten berbeda dengan kebanyakan keris lainnya, walaupun dibuat oleh Empu yang berjenis kelamin laki-laki, tapi menyajikan gerakan simbolik feminisme di dalamnya. Permainan simbol sebagaimana bentuk Keris Nogo Temanten, jika benar membawa pesan feminisme tentu tujuannya untuk menyampaikan sebuah nilai kesetaraan gender, agar masyarakat tidak lagi memprioritaskan sudut pandang laki-laki saja, bagaimanapun perempuan perlu diperlakukan secara adil dalam masyarakat tersebut. Termasuk upaya untuk mengubah dan memerangi stereotip gender dengan berusaha membangun peluang yang sama secara profesional dan setara dengan laki-laki.

Pusaka Keris Nogo Temanten seolah mengangkat wacana tandingan atas peyorasi sebutan ‘wanito’ yang diartikan ‘wani ditoto’ (berani ditata). Asumsinya, dengan sebutan ‘wanito’, sosok perempuan haruslah bisa ditata oleh pasangannya kelak. Pemberian sebutan ‘wanito’ kepada sosok perempuan dalam tradisi Jawa mengandaikan positioning perempuan merupakan subordinat dari laki-laki. Tentu penamaan ini, tidak berkeadilan gender. Ada lagi analogi yang peyoratif tentang perempuan. Konon perempuan tercipta dari tulang rusuk, sedangkan tulang rusuk bentuknya bengkok, ini artinya secara asal perempuan itu bengkok maka harus diluruskan, atau secara asal perempuan itu akrab dengan kesalahan, maka perlu dibenarkan.

Belum lagi keharusan perempuan dalam tradisi Jawa mempunyai pegangan 4 (empat) nilai, antara lain;

  1. Setya, perempuan harus setia kepada suaminya bagaimanapun kondisinya.
  2. Bekti, melalui tradisi upacara Mijiki, istri diminta untuk membasuh dan mengelap sebagai simbol kalau perempuan akan senantiasa berbakti dalam berumah tangga atau ungkapan Jawanya bakti mring kankung.
  3. Mituhu, perempuan diminta untuk memerhatikan dan meyakini didikan suaminya, serta menuruti perintah suami.
  4. Mitayani, perempuan Jawa harus dapat dipercaya. Dengan contoh, suami dapat berangkat bekerja dengan tenang untuk meninggalkan istri di rumah.

Sebenarnya empat nilai ini baik dan wajar, hanya saja yang harus berpegang pada 4 (empat) nilai ini tidak hanya perempuan (istri) saja, lelaki (suami) juga harus harus melakukan hal yang sama. Dengan berpatokan pada bentuk pusaka Keris Nogo Temanten, mestinya suami-istri menjadi satu kesatuan, tanpa menghilangkan hak otonom masing-masing di bagian tertentu. Layaknya konsep penciptaan Keris Nogo Temanten, yang konon terinspirasi pada pernikahan manusia yang sakral, yang disimbolkan Naga Kawin memiliki makna kesakralan dalam pernikahan merupakan sesuatu yang saling melengkapi, saling menjaga, saling setia dan membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Aaamiiin

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close