Perempuan & Anak

MEMBEBASKAN ANAK DARI KECANDUAN; METODE SYAIKHONA KHOLIL DAN MAHATMA GHANDI

Muniri, S.HI, M.HI

Suatu ketika ada orang yang sudah tidak mampu lagi membebaskan anaknya dari kecanduan. Lalu, tergeraklah hatinya untuk meminta wasilah kepada orang yang dianggap sebagai spiritualis, orang tersebut adalah Syaikhona Kholil Bangkalan (1820-1924). Cerita lain di India, Mahatma Ghandi (1869-1948) juga mempunyai cerita kurang lebih sama.

Dua orang spiritualis ini, ternyata mempunyai metode yang sama, yaitu: “Ibda’ binafsika” (Mulailah dari dirimu). Metode sederhana tapi sungguh berat penerapannya ini, menarik untuk diterapkan oleh para orang tua dan juga oleh para guru.

Diceritakan, suatu ketika ada seorang Bapak-bapak dengan anaknya yang masih kecil sowan ke Syaikhona Kholil. Bapak ini mengkhawatirkan anaknya yang sedang kecanduan makan gula. Lantas Syaikhona Kholil berkata ke anak kecil itu, “Hey cong (Nak)…kamu jangan makan gula ya… Anak itu menjawab “Iya”, sambil menganggukkan kepala.

Sesampai dirumahnya, anak kecil tersebut sama sekali tak memakan gula, dan makanan yang ada unsur gula. Bapaknya khawatir, takut kekurangan zat gula. Dan kembali lagi sowan ke Syaikhona Kholil, dan menyampaikan maksudnya. Lantas, Syaikhona Kholil dawuh ke anak kecil itu; “Kamu makan gula-gula yang sedang-sedang saja, ya?” ucap Kiyai sambil tersenyum. Anak itu menjawab, “Iya”.

Setelah pulang kerumahnya, ternyata anaknya berubah total, sesuai dengan apa yang dianjurkan Syaikhona Kholil. Namun, rasa penasaran Si Bapak anak kecil begitu tinggi, beberapa hari kemudian, ia kembali sowan ke Syaikhona Kholik lagi, dan menghaturkan keherenannya tersebut. “Ketika saya menyuruh anak sampean berhenti makan gula-gula, saat itu juga saya tidak makan gula”, demikian penjelasan Syaikhona Kholil. Bapak dari anak kecil tadi hanya berseru “O…O…O…”, tertegun seperti tengah menyadari sesuatu. (Diambil dari buku karya Saifur Rahman, judul: Surat Kepada Anjing Hitam, 1998 Cet. I, hlm. 159-160).

Demikian juga, Metode Mahatma Ghandi. Begitu ada seorang Ibu dengan anaknya yang mempunyai sebuah penyakit, dan untuk kesembuhannya dia tidak boleh mengonsumsi garam. Padahal sudah berkali-kali dinasehati, dan tak juga ada perubahan.

Tapi, apa yang terjagi. Gandhi tersenyum, dan meminta Ibu ini pulang; “Ibu, sekarang saya tidak bisa berkata apa-apa, silakan Ibu pulang dan kembali kesini minggu depan”.

Seminggu kemudian, pagi-pagi Si Ibu sudah berada di rumah Gandhi, tanpa menunggu lama, Ibu menghaturkan maksudnya; “Gandhi, anak ini telah di depanmu sekarang, tidak bisakah kamu sekarang menasehatinya?” Gandhi hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.

Dengan perasaan khawatir, ibu itu membawa pulang anaknya, dan tepat seminggu kemudian mereka telah berada di hadapan Gandhi. “Saya sudah menunggu satu Minggu”, kata Ibu itu kepada Gandhi, “sekarang berikan nasihatmu”. Dan Gandhi menuruti kemauan Ibu itu, dengan menghampiri anaknya, dan mengatakan nasehat; “Nak, kamu jangan makan garam dulu”.

Tidak lama kemudian, Gandhi meminta Ibu dan anak itu pulang. Ada sedikit rasa kecewa pada Ibu itu atas nasehat Gandhi pada anaknya, ‘kok cuman gitu aje’ (kata orang Jakarte). Perasaan ragu menyelimuti si Ibu, efektifkah nasehat seperti itu. Tapi, ternyata begitu sampai dirumah, berhari-hari, dan berminggu-minggu, anaknya total berhenti makan garam.

Ibu itu rupanya penasaran, kembalilah dia menghadap Gandhi, hanya mau menanyakan rahasia nasehatnya; “Gandhi apa rahasianya? padahal itu kata nasehat yang sering saya ucapkan, kenapa tak menurut padaku, tetapi mengapa kok menurut padamu?”.

Gandhi memberi penjelasan, “bahwa mengapa saya menyuruh pulang Ibu di Minggu pertama, dan setelah Ibu kembali di minggu kedua, saya juga bisa memberi nasehat”.

“Iya Gandhi, sampai itu menjadi bagian yang membuat saya penasaran” kata Ibu itu.

“Pada saat itu saya belum bisa menasehati anak Ibu, karena saya masih mengkonsumsi garam, sepulang Ibu saya berhenti makan garam, sampai kemudian Ibu datang lagi, baru saya bisa berbicara untuk tidak makan garam ke anak Ibu”.

“O…O…O…”, guman Ibu itu, dengan senyum yang memendarkan rasa bahagia dan kekaguman. (Cerita ini diambil di buku Happiness Inside karya Gobind Vashdev, cetakan ke III, hlm. 29-30).

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close