Opini

Memahami Fenomena Waliyullah Tinjauan Ilmiah: Masih Adakah?

Muniri, S.HI, M.HI

Dalam pengertian umum, Waliyullah merujuk kepada kaidah “Laa ya’rifu al-Waly illa al-Waly (tidak mengetahui kewalian seseorang kecuali sesama wali). Kaidah ini, mempunyai pengertian ketika seseorang menduga orang lain adalah waliyullah, maka yang menduga juga waliyullah, demikian sebaliknya. Dengan merujuk pada pengertian tersebut, fakta ke-walian seseorang hanya bisa dipahami secara tertutup, dan tentu seolah tidak ilmiah. Tulisan saya ini, mencoba menjelaskan konsep ke-walian seseorang dari prespektif “teori vibrasi energi”.

Konsep waliyullah, kalau kita kaji memakai “teori vibrasi energi”, maka sangat ilmiah. Sebagaimana kita tau, bahwa semua entitas di alam semesta adalah realitas energi, tak terkecuali manusia sebagai bagian entitas alam semesta. Dalam al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat ke 30 mengenai kedudukan manusia sebagai khalifatullah fil Ardhi, merupakan sebuah kedudukan yang sungguh tinggi, bisa jadi maksud dari kedudukan tersebut, merujuk pada bekal kemampuan yang dipunya manusia. Dengan energinya, manusia menjadi penentu keberadaan alam semesta. Maka, sangat memungkinkan, jika kualitas energi manusia dapat mengubah realitas di sekitarnya.

Asumsi, bahwa manusia sebagai penentu keberadaan alam semesta, tentu berhubungan dengan kualitas energi manusia itu sendiri, semakin baik energi manusia, maka efek positif dari keberadaannya terhadap kehidupan di sebuah wilayah lebih dirasakan manfaatnya. Untuk mengetahui ukuran vibrasi energi seseorang tersebut berkualitas tinggi, secara sederhana bisa dijawab jika keberadaan orang tersebut membawa dampak positif secara materiil maupun spirituil bagi lingkungannya.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Heart-Math Institute,[1] menemukan sebuah fakta bahwa hubungan antara otak dan Jantung manusia memancarkan gelombang elektromagnetik[2]. Otak memancarkan gelombang elektromagnetik berupa “pikiran”, sedangkan jantung memancarkan “perasaan”. Pikiran dan perasaan seseorang terhubung, kadang saling mengiyakan, kadang saling bertolak belakang. Daya vibrasi gelombang elektromagnetik pada otak dan jantung seseorang ditentukan seberapa selaraskah keduanya, sampai pada level tertentu dengan derajat energi yang diakibatkannya. Ketika vibrasi Otak dan Jantung baik, dari hubungan selaras keduanya dapat memancarkan gelombang elektromagnetik yang sangat luar biasa. Dengan demikian, jika Otak dan Jantung manusia positif sudah barang tentu akan memancarkan gelombang elektromagnetik positif.

David R. Hawkins[3] seorang psikiater, dokter, dan guru spiritual, pernah melakukan penelitian tentang energi yang dipancarkan manusia, menyimpulkan bahwa gelombang elektromagnetik yang dipancarkan manusia yang berhubungan dengan kapasitas kesadaran manusianya itu sendiri, yang selanjutnya dikelompokkan menjadi Force dan Power. Force berdaya memaksa, sementara Power cendrung berdaya menggerakkan. Urutannya, sebagai tabel di bawah ini:

Berdasarkan tabel di atas, orang yang mencapai level “Pencerahan”, maka energinya antara 700-1000, kondisi emosinya tak terlukiskan, bisa dikatakan hanya Allah yang tau, atau orang-orang yang kualitas energinya sama, hampir sama, atau satu tingkat di bawahnya. Orang yang berada di level energi seperti ini, cendrung dalam kesadaran murni, hanya dirinya dan Penciptanya yang menjadi terpenting.

Bagi orang Muslim, orang yang mempunyai kapasitas vibrasi energi sedemikian rupa, disebut “Waliyullah”. Sebagaimana pendapat Imam Al-Qusyairi, wali mempunyai dua pengertian. Pertama, orang yang sekuat tenaga berusaha menjaga hatinya agar tetap hanya bergantung kepada Allah dan terus menerus melakukan ketaatan tanpa diselingi kedurhakaan (waliy Salik). Kedua, orang yang hatinya secara penuh dan terus menerus dalam penjagaan dan pemeliharaan Allah (Waliy Majdzub).[4] Pada intinya, dari penegertian Waliyullah ini, bahwa ada orang-orang tertentu yang dirinya sampai pada kesadaran murni, yang kapasitas energinya berada di zona tak terlukiskan.

Sebagai seorang Muslim, kita tidak asing dengan sebuah informasi tentang kiamat, salah satu tanda-tandanya orang yang sholeh-sholehah ditarik dulu dari Bumi. Setelah Bumi hanya berisi orang-orang bervibrasi negatif, selanjutnya Bumi akan terjadi kehancuran.[5] Cerita-cerita Nabi juga demikian, sebelum Allah memberi bencana pada sebuah kaum, terlebih dahulu Allah memerintahkan Nabi untuk meninggalkan wilayah yang hendak diberi bencana.[6] Itu dikarenakan, vibrasi positif Nabi sangat besar, sehingga dapat menetralkan vibrasi negatif di wilayah tersebut.

Jadi, sepertinya memang ada beberapa orang di sekitar kita yang menjadi “Waliyullah”, yang berfungsi sebagai “pilar jagat”, orang-orang yang sangat dekat dengan Allah dan konsekuensinya memiliki vibrasi positif yang sangat tinggi. Keberadaan mereka, senantiasa menjadi penetralisir vibrasi negatif yang sudah mulai merajalela yang ada di sebuah wilayah.

Bila mengacu pada tabel force dan power di atas, di sana ada skala energi dalam angka. Sehingga kalau dibuat perbandingan akan menghasilkan perhitungan begini:

  • 1 individu pada level energi 300 setara dengan 90.000 individu di bawah level energi 200
  • 1 individu pada level energi 400 setara dengan 400.000 individu di bawah level energi 200
  • 1 individu pada level energi 500 setara dengan 750.000 individu di bawah level energi 200
  • 1 individu pada level energi 600 setara dengan 10 juta individu di bawah level energi 200
  • 1 individu pada level energi 700 setara dengan 70 juta individu di bawah level energi 200
  • 12 individu pada level energi 700 setara dengan 1 Avatar di level energi 1.000

Dari perbandingan ini, bahwa individu yang level energinya di bawah 200 adalah pengguna force. Jadi, bila ada pengguna power dengan level energi misalnya 300, maka vibrasinya setara dengan 90.000 orang pengguna force. Jika, vibrasi seseorang mencapai 700 maka sebenarnya, ia telah menjadi pilar jagat untuk 70 juta orang pengguna force.

Untuk mengetahui efek atau dampak dari gelombang elektromagnetik positif, bisa dilihat hasil uji coba pada tahun 1972, Maharisi Mahesh Yogi[7] seorang spiritualis dan pakar meditasi, melakukan ujicoba di lebih dari 24 kota di Amerika bagian Utara, kurang lebih melibatkan 10.000 orang penduduk dari kota-kota tersebut. Orang-orang tersebut diminta untuk melakukan meditasi khusus yang disebut meditasi transendental, inti dari meditasi ini adalah untuk menghasilkan rasa damai dan tentram dalam pikiran dan perasaan. Artinya, teknik ini membawa seseorang masuk ke zona power kelas tinggi. Setelah beberapa minggu meditasi tersebut dilakukan oleh orang-orang yang melibatkan diri dalam meditasi bersama, menunjukkan sebuah hasil, dimana kejahatan, kecelakaan, dan hal-hal yang negatif yang terjadi di wilayah itu menurun drastis.[8]

Bagi seorang Muslim, hal seperti ini bukanlah sesuatu yang asing, fakta ini bisa dihubungkan dengan apa yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an Surat Al-Angkabut: 45 “Inna al-Shalata tanha ‘ani al-Fakhsya’i wa al-Munkar” (Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar). Ayat ini, jelas memberikan gambaran bahwa sholat menjadi media yang dapat mencegah dari perbuatan negatif. Dengan demikian, bagi ummat Islam, jika dalam suatu daerah yang mayoritas muslim, tapi masyarakatnya masih sering terjadi kekacauan, serta sering terkena bencana, maka curigailah shalat kita masing-masing, jangan-jangan memang shalat kita tidak dilaksanakan dengan baik. Sebagaimana cerita, dimana Nabi pernah meminta salah satu sahabat untuk mengulangi shalatnya sampai tiga kali, karena diduga shalatnya tidak benar.[9]

Dari ujicoba yang dilakukan Maharisi Mahesh Yogi sebagaima dipaparkan di atas, sangat nyata bahwa ada hubungan antara kejadian dalam hidup dengan pola vibrasi, dari diri sendiri pada diri sendiri, dan dari diri pada orang lain, dari orang lain pada diri kita, dan dari kita semua pada alam semesta. Dan sudah jelas itu terjadi, karena semua yang ada di alam semesta menyatu dan terhubung. Secara materiil kita terlihat terpisah, tetapi secara quantum kita adalah satu kesatuan.

Di atas telah dijelaskan, tentang kualitas vibrasi power, dimana 1 orang mempunyai vibrasi elektromagnetik positif mencapai 700-1000 dapat menyangga beberapa orang dalam suatu wilayah. Secara rasional, jika dalam satu wilayah penduduknya berjumlah 1.000.000 jiwa, kita hanya butuh 10.000 orang untuk mempunyai vibrasi elektromagnetik positif. Tidak menutup kemungkinan, dari sinilah salah satunya keseimbangan terjadi dalam kehidupan baik sosial maupun alamiah. Maka dengan demikian, kalau kita hubungkan dengan ciri-ciri Waliyullah adalah orang yang mempunyai cinta, kebahagiaan, kedamaian dan tercerahkan secara hakiki, tentu dapat kita perkirakan kualitas energinya dapat menjadi pilar jagat bagi kehidupan bersama di alam semesta.

Penulis dalam kontek ini, mempercayai dan meyakini, ada diantara kita yang menjadi Waliyullah. Dan uraian di atas, merupakan salah satu bukti ilmiah untuk memahami aspek ke-waliyan dalam kacamata ilmiah. Wallahu a’lam bi Al-Shawaab.

*****

[1] Pierre Franckh, Law of Resonance; Membangkitkan Getaran Hati untuk Mereguk Kebahagiaan Sejati”, (Jakarta: Ufuk Press, 2009), 44

[2] Gelombang yang dapat merambat walau tidak ada medium, merambatnya dengan beberapa karakter yang bisa diukur, yaitu panjang gelombang, frekuensi, amplitude, kecepatan. www.pustakasekolah.com

[3] Veritaspub.com/about_us.php

[4] Warisdjati.blogspot.com/2013/03/ciri-ciri-waliyullah-dan-menembus.html?m=1

[5] https://komunitasamam.wordpress.com/2009/05/31/tanda-tanda-hari-kiamat-hilangnya-orang -sholeh-al-qur’an-dan-islam/

[6] Ibid

[7] Pierre Franckh, Law of Resonance; Membangkitkan Getaran Hati…, 67

[8] www.ikhlaspasrah.com/page/6/

[9] www.sarkub.com/2013/ketika-shalat-tidak-mencegah-dari-perbuatan-keji-dan-munkar/

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close