Sejarah & Budaya

Mbah Kholil Bangkalan: Titik Simpul Relasi Ulama Madura, Nusantara dan Haramain

Oleh: Muniri, MH.I[1]

Pra Wacana

Berbicara tentang Islam di Indonesia, berhubungan erat dengan kiprah pesantren dan para Kyai yang memimpinnya.[2] Sebagaimana dipahami, dunia pesantren merupakan asal-usul dari pendidikan Islam di Indonesia, sebuah model tempat pendidikan berdasar pada kebutuhan zaman. Dalam kesejarahannya, eksistensi pesantren erat dengan kesadaran kewajiban dakwah Islam, untuk menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam, sekaligus mencetak kader-kader ulama pejuang untuk melawan penjajahan Belanda kala itu.

Keterkaitan kausalitas pesantren dengan sosok Kyai dipahami bahwa sosok Kyai merupakan pemilik atau penentu utama dalam tradisi pesantren, dan penentu tumbuh-kembang pesantren itu sendiri. Hingga kini, walaupun sudah berkembang manajemen modern, pesantren tetap menjadikan Kyai sebagai sentral kebijakan yang berhubungan dengan pesantren secara umum. Tidak hanya kalangan pesantren saja figur Kyai menjadi fenomenal, pada masyarakat umumpun menganggap figur Kyai dipahami sebagai orang yang ahli agama Islam yang  menjadi pemimpin pesantren dan mengajarkan kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya.

Mengenai penyebutan, perwilayah punya ciri khas. Jika di Jawa Timur dan Jawa Tengah figur agamawan dan mempunyai pesantren disebut Kiyai, di Jawa Barat penyebutannya berbeda, untuk orang alim di bidang Agama disebut ajengan. Terlepas dari bedanya penyebutan tersebut, perkembangan terbaru banyak juga ulama yang cukup berpengaruh di masyarakat juga mendapatkan gelar Kyai atau Ajengan, sekalipun mereka tidak memiliki pesantren.[3]

Di Madura, yang wilayahnya berada di daerah Jawa Timur, penyebutan untuk orang alim dalam pengetahuan agama, disebut Kyai. Bagi orang Madura, Kiyai ditempatkan sebagai sosok yang harus dihormati, yang disejajarkan dengan kedua orang tua dan ratu, sebagaimana pribahasa yang dipahami secara umum oleh orang madura, yakni Bhu’, Pa’, Bhabbu’, Ghuru, Rato.[4] Pribahasa  Bhu’, Pa’, Bhabbu’, Ghuru, Rato ini, seolah menggambarkan primordialisme masyarakat Madura dalam interaksi sosialnya. Penghormatan terhadap rasa keagamaan setali tiga uang dengan penghormatannya terhadap seorang Guru, terutama Guru yang mengajarkan pengetahuan Agama.[5]

Adanya filosofi Bhu’, Pa’, Bhabbu’, Ghuru, Rato, sekurang-kurangnya bisa dijadikan sebagaian bukti, bahwa orang Madura mempunyai rasa primordialisme yang kuat, salah satunya primordialisme agama. Hal ini tertanam sejak zaman purba, asumsi ini berdasar pada banyaknya temuan purba kala yang diprediksikan merupakan koleksi orang Madura sejak zaman animisme dan dinamisme. Temuan tersebut berupa peninggalan bangunan megalitik berupa bato kennong  (Batu Kenong) atau bato egghung  (batu gong) dan menhir di pulau Sapudi Sumenep, yang ditengarai salah satu bentuk bangunan yang mengekspesikan keagamaan yang kental, bahkan nama-nama desa, kampung, atau dukuh sampai sekarang bernama Candi, Mandala, dan Sema. Nama-nama tersebut menunjukkan adanya tapak-tapak untuk kegiatan keagamaan.[6] Sementara di Bangkalan, yang dulunya masuk wilayah Madura Barat, ada banyak temuan, semisal Lingga yang berdasarkan tahun pembuatan tertera 1151 Caka/1229 M, situs candi, gua lengkap dengan candra sengkela memet, Arca Siwa,  Arca Dhayani Budha, bekas Gapura bekas pintu masuk Kraton kuno, arca Ghanesa, dan banyak lagi yang lainnya.[7]

Sekilas tentang Islam di Madura-Barat

Gambaran orang Madura yang mempunyai rasa keagamaan yang kuat sejak zaman purba, tidak mengalami perubahan hingga agama Islam masuk pelan-pelan sekitar abad XV, yang sebelumnya menganut agama Hindu dan Budha. Perkembangan Islam di Madura merata karena diterima secara luas oleh semua elemen masyarakat, yang dimulai dari para petinggi kerajaan hingga rakyat kebanyakan.[8] Dukungan Raja Pratanu dalam penyebaran Islam di wilayah Barat pulau Madura (Bangkalan saat ini), nyaris tersebarnya agama Islam diterima tanpa kekerasan.

Capaian dan massifnya proses penyebaran Islam di Madura, bisa dilihat pada masa kini, secara umum orang Madura cukup kental dengan ke-Islamannya. Ke-Islamanan yang begitu kuat masih terlihat hingga kini, kurang lebih sama dengan keislaman orang Aceh, Minang, Sunda, dan Bugis yang juga sangat kental nuansa keislamannya.

Raden Pratanu orang yang berjasa untuk perkembangan Islam di wilayah Madura Barat, kiprahnya dimulai sejak masa pemerintahannya, yang diangkat sebagai raja pada 24 Oktober 1531 M. Masa pemerintahan Raden Pratanu satu masa dengan kiprah Sunan Kudus, yang secara tidak langsung telah meng-Islamkannya melalu Patih Empu Bageno yang sebelumnya ditugaskan menemui Sunan Kudus, dan masuk Islam terelebuh dahulu, dan dari Empu Bageno inilah Raden Pratanu mempelajari Islam. Setelah masuk Islam, ia menyebarkan agama Islam ke seluruh warga Arosbaya Dan Agama Islam semakin berkembang dan menjadi dominan di Bangkalan pada masa pemerintahan Raden Abdul Kadirun 1815-1847, bahkan dalam tata pemerintahannya dijalankan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.[9]

Puncaknya, menjelang akhir abad XIX di desa Kademangan (dekat kota Bangkalan) sudah berdiri sebuah pesantren besar di bawah asuhan Kyai Haji Muhammad Kholil (baca; Mbah Kholil). Pesantren ini, begitu masyhur sehingga menjadi magnet bagi santri-santri kelana untuk menimba ilmu, dan hasil didikannya banyak yang menjadi tokoh pemimpin pesantren besar di pelbagai tempat[10] dan menjadi pejuang hizbullah untuk melawan penjajahan Belanda.[11] Konon, pesantren Mbah Kholil ini, menjadi persinggahan untuk beberapa saat sebelum para santri melanjutkan studinya ke Mekkah,[12] dalam rangka memperdalam ilmu agama.

Dari sekian ulama yang mempunyai geneologi keilmuan kepada Mbah Kholil, seolah Mbah Kholil sendiri menjadi perantara keterhubungan santri-santri dalam menimba ilmu di Mekkah. Bruinessen dalam bukunya menyebut “Kyai Labang”.[13] Kata Labang merupakan bahasa Madura yang mempunyaiarti “pintu”, diduga kuat yang dimaksud adalah Mbah Kholil Bangkalan, yang mungkin saja berpengertian bahwa beliau menjadi perantara bagian sekian santri Jawa-Madura yang hendak melanjutkan studi ke Mekkah. Ini merupakan jejak bahwa memang ada relasi kuat antara ulama Madura, Haramain dan Nusantara, yang bertitik tolak dari keberadaan Mbah Kholil sebagai simpul sejarah. Konon dengan hubungan yang baik antara ulama Madura dan Haramaian, Ulama Haramain sangat ingin mengajar di Madura.[14]

Jejak Pengalaman Hidup Mbah Kholil Bangkalan

Mbah Kholil Bangkalan yang menjadi tokoh panutan umat semasa hidupnya, dilahirkan hari selasa, 11 Jumadil Akhir 1225 H (1835 M) di Kampung Pasar Senen, Desa Demangan, Kecamatan Kota Bangkalan.[15] Beliau adalah anak Kyai Abdul Latief[16], semasa pemerintahan Adipati Setjodiningrat III atau dikenal dengan nama Sultan Bangkalan II yang diangkat oleh Raffles. Sejak kecil, Mbah Kholil Bangkalan diharapkan bisa menjadi pemimpin umat, seperti halnya Sunan Gunung Jati yang merupakan Waliyullah, pemimpin dan pejuang Islam terkenal. Dambaan itu mengingat masih ada keturunan dengan Sunan Gunung Jati.[17]

Beliau yang kala itu sudah menunjukkan keistimewaan bila dibanding anak-anak seusianya, dididik sendiri oleh sang ayahnya. Ilmu-ilmu yang diajarkan, terutama Ilmu aqidah, syari’ah, dan akhlak. Konon sebelum menimba ilmu ke daerah Jawa, beliau berguru kepada beberapa ulama di Bangkalan, yakni ke Tuan Guru Dauh di desa Mlajah Bangkalan, dan Tuan Guru Agung atau yang dikenal dengan Bhuju’ Agung.[18]

Merasa haus ilmu pengetahuan Agama, pada tahun 1850, Mbah Kholil Bangkalan belajar ngaji kepada Kyai Muhammad Nur di Pesantren Langitan, Tuban. Kemudian melanjutkan ke Pesantren Canga’an, Bangil Pasuruan, dan selanjutnya ke pondok Darus Salam Kebun Candi, Pasuruan, dan Sidogiri Pasuruan.[19]

Keinginan untuk menambah ilmu agama diteruskan ke tanah suci Mekkah, sekaligus ingin menunaikan ibadah haji. Sebelumnya, beliau mondok di Pesantren Banyuwangi, sakaligus menjadi buruh memetik kelapa pada Kyainya dengan upah tiga sen per 80 kelapa.[20]

Pada tahun 1859 beliau Naik Haji ke Mekkah. Lima tahun berada di Mekkah, Mbah Kholil Bangkalan kemudian pulang ke Tanah Air, beliau dikenal sebagai ahli Nahwu, Fikh dan tasawuf membuat disegani kyai-kyai lain. beliau dianggap mempunyai ilmu yang dapat mengetahui sebelum kejadian terjadi.[21]

Sepulang dari Mekkah, beliau tidak langsung mendirikan pondok, melainkan bekerja di kantor pejabat Adipati Bangkalan sebagai penjaga malam. Karena, diketahui mempunyai kedalaman ilmu Agama, akhirnya diangkat menjadi penasehat, dan diminta untuk mengajar keluarganya dan punggawa kadipaten Bangkalan.[22] Setelah kealimannya sudah dikenal halayak, terutama di kalangan kadipaten Bangkalan, beliau berinisiatif mendirikan pondok di Demangan. Untuk mendirikan pondok baru ini beliau diberi tanah oleh raja di pinggir jalan tengah kota. Padahal saat itu pondok ditengah kota merupakan hal yang jarang terjadi.[23]

Hidup pada masa penjajahan Mbah Kholil, tidak luput dari gejolak perlawanan terhadap penjajah. Namun, perlawannya tidak frontal, beliau mengemas sendiri caranya melakukan perlawanan.

Bidang pendidikan

Dalam bidang ini, Mbah Kholil mempersiapkan murid-muridnya untuk menjadi pemimpin yang berilmu, berwawasan, tangguh dan mempunyai integritas, baik kepada agama maupun bangsa. Ini dibuktikan dengan banyaknya pemimpin umat dan bangsa yang lahir dari hasil didikannya.

Pejuang di belakang layar

Realitas ini tergambar, bahwa ia tak segan-segan untuk memberi suwuk (mengisi kekuatan batin, tenaga dalam) kepada pejuang. Sesuai dengan keadaan beliau sewaktu pulang dari Mekkah yang telah berumur lanjut, tentunya Mbah Kholil tidak melibatkan diri dalam medan perang, memberontak dengan senjata tetapi mengkaderkan pemuda di pondok pesantren yang diasaskannya.

Mbah Kholil pun tidak keberatan pesantrennya dijadikan tempat persembunyian. Ketika pihak penjajah mengetahuinya, Mbah Kholil ditangkap dengan harapan para pejuang menyerahkan diri. Dengan tuduhan melindungi beberapa orang yang terlibat melawan Belanda di pondok pesantrennya. Beberapa tokoh ulama maupun tokoh-tokoh kebangsaan lainnya yang terlibat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak sedikit yang pernah mendapat pendidikan dari Mbah Kholil.[24]

Mbah Kholil adalah seorang ulama yang benar-benar bertanggung jawab terhadap pertahanan, kekukuhan dan maju-mundurnya agama Islam dan bangsanya. Beliau sadar benar bahwa pada zamannya, bangsanya adalah dalam suasana terjajah oleh bangsa asing yang hanya melakukan eksploitasi kekayaan alam Nusantara.

Diantara sekian banyak murid Mbah Kholil yang cukup menonjol dalam sejarah perkembangan agama Islam dan bangsa Indonesia ialah KH. Hasyim Asy’ari (pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dan pengasas Nahdlatul Ulama/NU), KH. Abdul Wahab Chasbullah (pendiri Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang), KH. Bisri Syansuri (pendiri Pondok Pesantren Denanyar, Jombang), KH. Ma’shum (pendiri Pondok Pesantren Lasem, Rembang, adalah ayahanda KH. Ali Ma’shum), KH. Bisri Mustofa (pendiri Pondok Pesantren Rembang), dan KH. As’ad Syamsul `Arifin (pengasuh Pondok Pesantren Asembagus, Situbondo), bahkan Ir. Soekarno konon pernah menjadi muridnya.[25]

Mbah Kholil Bangkalan Sebagai Titik Simpul Ulama Nusantara dan Haramain

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa terindikasi ada ijma’ sukuti di kalangan ulama pada masa itu, terutama Jawa-Madura. Jika ingin melanjutkan studi ke Mekkah atau mendirikan pondok harus mendapatkan beroka (berkah) Mbah Kholil Bangkalan, bahkan konon KH. Hasyim Asy’ari begitu bermunajat kepada Allah untuk mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU), tak kunjung mendapatkan petunjuk, justru petunjuk tersebut datang kepada Mbah Kholil, dan disampaikan oleh santri kesayangannya yakni, KH. As’ad Syamsul Arifin.[26]

Hubungan ulama Madura dengan Ulama Nusantara, jika mengambil Mbah Kholil sebagai titik simpulnya, maka hubungan tersebut terjalin sejak beliau menimba ilmu di Mekkah. Saat pertama sampai di Mekkah, Mbah Kholil langsung bergabung dengan santri-santri yang berasal dari nusantara yang sudah lebih dulu menjadi santri di Mekkah, antara lain; Syaikh Abdul Ghani (Bima), Syaikh Ibrahim, Syaikh Abdul Ghani al-Asyi, Syaikh Abdul Rauf Singkeli, Syaikh Yusuf (Sumbawa), Syaikh Nahrawi, Syaikh Abdul Hamid Dhagistani, KH. Asnawi Kudus, KH. Asnawi Banten, Ajengan Tubagus Bakri (Purwakarta), Syaikh Arsyad Banten, Syaikh Asy’ari Bawean, KH. Majnun Mauk (Tangerang), Syaikh Muhammad Khatib Hambali, Syaikh Ahmad Khatib (Minangkabau), dan Syaikh Muhammad Yasin (Padang).[27]

Ulama-ulama yang disebutkan di atas, merupakan senior dari Mbah Kholil, sementara yang seangkatan dan pulangnya bersamaan dengan beliau ke Nusantara, adalah Syaikh Abdul Karim dan Syaikh Tolhah yang sama-sama mengemban amanat untuk menyebarkan thariqoh Qodariyyah dan Naqsyabandiyyah. Syaikh Abdul Karim menyebarkan di Banten, dan Syekh Tolhah di Cirebon, dan Mbah Kholil di Bangkalan Madura.[28]

Sedangkan santri-santrinya yang menjadi cikal-bakal pejuang yang melawan penjajahan Belanda, adalah KH. Hasyim Asy’ari (Tebu Ireng), KH. Manaf Abdul Karim (Lirboyo Kediri), KH. Mohammad Sidik (Jember), KH. Bisri Syamsuri (Jombang), KH. Munawir (Krapyak Yogyakarta), KH. Maksum (Lasem), KH. Abdullah Mubarak (Suralaya Tasik Malaya), dan Wahab Hisbullah (Jateng).[29]

Hingga generasi seterusnya, dalam berjuang menuju kemerdekaan, para santri alumni Mbah Kholil memainkan peran yang luar biasa, mulai dari Tapal Kuda hingga Gunung Selok, jejaring santri Bangkalan dan Tebu Ireng memberikan konstribusi yang signifikan dalam melawan penjajahan Belanda.[30] Bahkan keterlibatan santri-santri ini dalam perjuangan melawan Penjajah diakui oleh Pemerintahan kolonial, setiap ada kerusuhan dan pemberontakan terhadap pemerintah kolonial, hampir bisa dipastikan selalu ada kaum santri di dalamnya.[31]

Dengan mengacu kepada Mbah Kholil sebagai titik simpul untuk menemukan jejaring Ulama Madura dan Ulama dunia, maka terlebih dahulu harus diketahui guru-guru beliau, dari guru-gurunya maka bisa ditemukan jejaringnya. Dari sekian guru Mbah Kholil sewaktu di Mekkah, antara lain; Syekh Ali Al-Mishri, Syekh Umar As-Sami, Syekh Khalid Al-Azhari, Syekh Al-Aththar, Syekh Abun Naja, Syekh Ali ar-Rahbini. Dan dari sekian guru-gurunya tersebut, yang paling terakhir dan terdekat, dan masih tersisa jejak jalinannya dengan Ulama Nusantara adalah Syekh Ali ar-Rahbini.[32]

Hubungan baik antara keluarga ulama besar ini, diperkuat dengan datangnya Syekh Ali bin Muhammad ke Pesantren Mbah Kholil dan berguru kepadanya, dan menjodohkan salah satu cucunya dengan salah satu cucu Mbah Kholil. Syaikh Ali bin Muhammad bin ar-Rahbini sendiri setelah memutuskan berdiam di Indonesia, ia menikah dengan beberapa wanita Jawa dan Madura, yang dikaruniai 24 putra dan putri, dari beberapa putrinya dinikahkan dengan Kyai-Kyai Madura, yaitu Nyai Lathifah dengan Kyai Shonhaji Jazuli (Ulama besar Pamekasan), Nyai Aminah dengan adik Kyai Shanhaji, yaitu Kyai Mahalli, Nyai Sarah dengan Kyai Asum Luk Guluk (Ulama besar Sumenep), dan Nyai Qudsiyah dengan Kyai Abdul Aziz Ombul (Ulama besar Sampang).[33]

Senada dengan istilah Kyai Labang, ada istilah “ngetan” (timur), bagi para orang alim yang berkeinginan melanjutkan studi ke Mekkah, atau berkeinginan mendirikan pondok, dan terasa kurang afdhal kalau belum berkelana ke Timur. Tujuannya, antara lain ke Surabaya untuk belajar fiqh dan ke Bangkalan untuk belajar Nahwu.[34] Sangat dimungkinkan, anjuran untuk berkelana ke Timur oleh para Kyai-Kyai Sepuh, tidak hanya bagi santri yang hanya belajar di pondok sekitar Jawa, melainkan juga alumni Mekkah sekalipun merasa kurang afdhal jika belum mendapatkan barokah dari Kyai-Kyai Mashur di daerah Timur, mengingat dalam tradisi pesantren, sangat menjungjung sikap tawadhu’ kepada yang yang lebih sepuh, dan alim.

Tradisi ngetan (Berkelana ke daerah Timur) yang dimaksud, adalah Pacitan, Madiun, Surabaya, dan Madura. Dari sekian daerah yang perlu disinggahi untuk mendapatkan beroka, daerah Madura menduduki posisi istimewa di hati para santri kelana. Bahkan, Madura menjadi pangkalan para ulama Nusantara hingga ulama-ulama negeri Hadramaut.[35]    

Simpulan

            Tulisan ini sebenarnya hanya pelurusan pada buku karya Martin Van Bruinessen, khususnya bahasan tentang Kyai Labang, yang diberi pengertian Kyai yang berasal dari Kecamatan Labang Kabupaten Bangkalan. Penulis menduga Bruinessen tidak cukup data dalam memastikan siapa sosok Kyai Labang tersebut.

            Berdasarkan data dalam tulisan ini, penulis menengarai bahwa yang dimaksud Kyai Labang adalah Mbah Kholil Bangkalan. Hipotesis ini berdasar pada, antara lain; Pertama, Arti kata Labang, yang merupakan bahasa Madura yang mempunyai arti pintu. Kedua, Mbah Kholil merupakan Kyai yang mempunyai tempat terhormat di hati para santri, kolega, dan gurunya, sehingga ia berdasarkan ijma’ sukuti dijadikan tempat untuk mendapatkan beroka (berkah) bagi santri yang hendak melanjutkan studi ke Mekkah, dan bagi Santri yang berkeinginan mendirikan pesantren. Posisi terhormat Mbah Kholil yang sedemikian rupa, jika dikaitkan dengan sebutan Kyai Labang, bisa jadi Mbah Kholil dianggap sebagai “pintu mendapatkan beroka, hikmah dan kesuksesan hidup”.

Yang terakhir, dilihat dari umur, Mbah Kholil dikaruniai umur yang panjang, sangat memungkinkan guru-gurunya di Mekkah menganjurkan kepada alumninya agar sowan kepada Mbah Kholil jika berkeinginan mendirikan pesantren, sebagaimana tradisi yang ada hingga kini. Bahkan salah satu cucu dari gurunya di Mekkah pernah menjadi santrinya. Demikian, beberapa data dukungan hipotesis penulis mengenai siapa Kyai Labang dimaksud, tak lain adalah Mbah Kholil Bangkalan.             

Daftar Rujukan

Ali bin Badri Azmatkhan, Dari kanjeng Sunan sampai Romo Kiai Muhammad Kholil Bangkalan; Telaah Sejarah dan Riwayat Hidup, Bangkalan: IKAZI, 2007)

Ahmad Baso, Pesantren Studies 2A; Kosmopolitanisme Peradaban Kaum Santri di Masa Kolonial, (Tangerang: Pustaka Afid Jakarta, 2013)

Ahrori Dhafir, Cholil Yasin : Penderma Sejati Tiada Henti, (Bangkalan : PP. Al-Falah AlKholiliyah, 1432 H)

Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII; Akar Pembaruan Islam, (Jakarta: Kencana, 2004)

Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, (Yogyakarta: Gading Publishing, 2012)

Fuad Amin Imron, Mbah Kholil Bangkalan; Penentu Berdirinya Nahdlatul Ulama, (Surabaya: Khalista, 2012)

Muhammad Rifa’i, KH. M. Kholil Bangkalan, Biografi Singkat 1820-1923, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group, 2010)

Mien Rifa’i, Manusia Madura; Pembawaan, Perilaku, Etos Kerja, Penampilan, dan Pandangan Hidupnya seperti Dicitrakan Peribahasanya, (Yogyakarta: Nansa Aksara, 2007)

Muniri Chodri, KH. Asy’ari Umar; Ulama Mandiri Pengokoh Tradisi, Surabaya: Imtiyaz, 2012

Zamakhsyari Dhofier , Tradisi Pesantren,(Jakarta : LP3S,1982)

Zainul Milal Bizawie, Masterpiece Islam Nusantara; Sanad dan Jejaring Ulama Nusantara 1830-1945, (Tangerang: Pustaka Kompas, 2016)


[1] Dosen STAI Al-Hamidiyah Bangkalan

[2] Lihat Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, (Yogyakarta: Gading Publishing, 2012), hlm. 86

[3] Zamakhsyari Dhofier , Tradisi Pesantren,(Jakarta : LP3S,1982),h. 55.

[4] Asal-usul pribahasa “Bhu’, Pa’, Bhabbu’, Ghuru, Rato, lahir dari perdebatan dua tokoh. Tepatnya ketika saat itu terdapat perdebatan tentang peribahasa “Bhu’, Pa’, Bhabbu’, Ghuru, Rato”. Buju’ Langgurdih pada saat itu pernah mengeluarkan sebuah pernyataan “Laa ma’buda bi haqqin illallaahi” yang disinyalir mengandung makna bahwasanya “haram hukumnya menyembah ratu”. Buju’ Langgurdihmenilai bahwa kewajiban mutlak manusia adalah menyembah Allah SWT, dan tidak ada keterwakilan penyembahan itu kepada mahluknya, termasuk kepada ratu, kecuali kepada orang tua.

Pernyataan tersebut memantik persoalan di kalangan kerajaan dan Pemerintah Hindia Belanda saat itu. Sebab, ratu merupakan kepanjangan tangan dari Pemerintah Hindia Belanda, sehingga ketika muncul pernyataan diatas, maka goyanglah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda di Bangkalan saat itu. Ketundukan masyarakat menjadi luntur karena pernyataan itu.

Selama bertahun-tahun, pernyataan dari buju’ Langgurdih menjadi polemik di masyarakat. Akhirnya, Buju’ Sembilanganmenanggapi pernyataan Buju’ Langgurdih tersebut dengan mengatakan bahwa konsep “Laa ma’buda bihaqqin illallaahi” tidak dapat dikaitkan artinya dengan larangan menyembah ratu. Buju’ Sembilangan berpendapat bahwa pemimpin merupakan wakil dalam tatanan sosial yang ditujukan guna menciptakan keteraturan dan ketertiban hukum-hukum sunah Allah SWT di masyarakat. Karenanya tidak dibenarkan melakukan pembangkangan terhadap penguasa yang mendapat mandat. Lihat, Muniri Chodri, KH. Asy’ari Umar; Ulama Mandiri Pengokoh Tradisi, Surabaya: Imtiyaz, 2012, hlm. 16-18

[5] Mien Rifa’i, Manusia Madura; Pembawaan, Perilaku, Etos Kerja, Penampilan, dan Pandangan Hidupnya seperti Dicitrakan Peribahasanya, (Yogyakarta: Nansa Aksara, 2007), hlm. 313-319

[6] Ibid, hlm. 42

[7] Fuad Amin Imron, Syaikhona Kholil Bangkalan; Penentu Berdirinya Nahdlatul Ulama, (Surabaya: Khalista, 2012), hlm. 35-37

[8] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII; Akar Pembaruan Islam, (Jakarta: Kencana, 2004), hlm. 12

[9] Fuad Amin Imron, Syaikhona Kholil Bangkalan…..hlm. 39-42.  Peran dari kalangan kerajaan memang cukup signifikan, tapi bukan berarti menutup mata pada peran ulama yang bukan keluarga kerajaan. Bahkan di Kwanyar ada Sunan Cendana, yang terbilang cucu dari Sunan Ampel, yang dari beliau inilah lahir ulama-ulama besar di Madura. Ada juga, Buju’ Langgurdih dan Buju’ Sambilangan yang merupakan buyut dari Syaikhona Kholil (Mbah Kholil), dan KH. Asy’ari Umar, yang sudah barang tentu berjasa mengajarkan ke-Islaman masyarakat di daerah barat. Muniri Chodri, KH. Asy’ari Umar;………, hlm. 16

[10] Antara lain; KH. Hasyim Asy’ari (Tebu Ireng), KH. Manaf Abdul Karim (Lirboyo Kediri), KH. Mohammad Sidik (Jember), KH. Bisri Syamsuri (Jombang), KH. Munawir (Krapyak Yogyakarta), KH. Maksum (Lasem), KH. Abdullah Mubarak (Suralaya Tasik Malaya), dan Wahab Haibullah (Jateng). Mien Rifa’i, Manusia Madura….., hlm. 43

[11] Zainul Milal Bizawie, Masterpiece Islam Nusantara; Sanad dan Jejaring Ulama Nusantara 1830-1945, (Tangerang: Pustaka Kompas, 2016), hlm. 66-114

[12] Mbah Kholil sendiri merupakan Santri alumni Mekkah, diantara gurunya sewaktu di Mekkah antara lain; Syekh Ali Al-Mishri, Syekh Umar As-Sami, Syekh Khalid Al-Azhari, Syekh Al-Aththar, Syekh Abun Naja, Syekh Ali Rahbini. Ali bin Badri Azmatkhan, Dari kanjeng Sunan sampai Romo Kiai Muhammad Kholil Bangkalan; Telaah Sejarah dan Riwayat Hidup, Bangkalan: IKAZI, 2007), hlm. 61-62

[13] Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning…., hlm. 424-425

[14] Ahmad Baso, Pesantren Studies 2A; Kosmopolitanisme Peradaban Kaum Santri di Masa Kolonial, (Tangerang: Pustaka Afid Jakarta, 2013), hlm. 200

[15] Muhammad Rifa’i, KH. M. Kholil Bangkalan, Biografi Singkat 1820-1923, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group, 2010), hlm. 21

[16] Muhammad Kholil bin Abdul Latif, bin Kyai Hamim, bin Kyai Abdul Karim, bin Kyai Muharram, bin Kyai Abdul Adzim, bin Nyai Tepi Sulasi, binti Nyai Komala, binti Sayyid Zainal Abidin, bin Nyai Gede Kedaton, binti Panembahan Kulon, bin Sayyid Ainul Yaqin (Sunan Giri). Ali bin Badri Azmatkhan, Dari kanjeng Sunan ………………., hlm, 38-39

[17] Ibid, hlm. 39-40

[18] Fuad Amin Imron, Syaikhona Kholil Bangkalan…..hlm.66

[19] Ibid, hlm. 67

[20] Ali bin Badri Azmatkhan, Dari kanjeng Sunan ………., hlm. 53

[21] Ibid, hlm. 69

[22] Fuad Amin Imron, Syaikhona Kholil Bangkalan…..hlm. 69-73

[23] Ahrori Dhafir, Cholil Yasin : Penderma Sejati Tiada Henti, (Bangkalan : PP. Al-Falah AlKholiliyah, 1432 H), hlm. 15

[24] Ali bin Badri Azmatkhan, Dari kanjeng Sunan ………., hlm. 109

[25] Ibid, hlm. 80

[26] Fuad Amin Imron, Syaikhona Kholil Bangkalan…., hlm. 119

[27] Ibid, hlm. 68

[28] Ali bin Badri Azmatkhan, Dari kanjeng Sunan ….., hlm. 59

[29] Mien Rifa’i, Manusia Madura….., hlm. 43

[30] Zainul Milal Bizawie, Masterpiace Islam Nusantara….., 65-102

[31] Ahmad Baso, Pesantren Studies…., hlm. 196

[32] Ali bin Badri Azmatkhan, Dari kanjeng Sunan ….., hlm. 62

[33] Ibid, 66-67

[34] Ahmad Baso, Pesantren Studies…., hlm. 205-206

[35] Ibid, hlm. 206

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close