Opini

KESURUPAN, TIPE KECERDASAN, DAN POLA ASUH YANG SALAH

Kemarin Saya ke Villa Dharma Prigen Pasuruan, untuk memenuhi undangan menjadi nara sumber materi Analisis Sosial (Ansos) pada MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru) PMII Rasya (bukan Raisya).

Dari Bangkalan, Saya bersama Alfan Maulidi. Walaupun ada kejadian yang tidak enak, Alfan mengalami tabrakan dengan Kader PMII Bangkalan sebelum menjemput Saya. Saya menunggu Alfan di warung makan Griya Utama sambil makan siang, Saya menawarkan agar diurungkan berangkat ke Pasuruan, ternyata Alfan begitu tegar dan tetap semangat menghadiri MAPABA PMII Rasya.

Kami berangkat, singgah di kantor istri Alfan yang juga mau ikut, selanjutnya menjemput anak-anak Teater Q (Alfan salah satu senior Teater Q). Dari UINSA Surabaya kami sembilan orang (perempuan 3, 6 laki) menuju Pasuruan.

Sesampainya di lokasi, Saya berbincang dengan para pengurus PMII Rasya. Selang beberapa menit, ada yang memberi tahukan kalau ada salah satu kader Perempuan mengalami kesurupan, Sayapun diminta mengobatinya. Sayapun teringat tahun 2005, saat Saya masih menjadi Ketua PMII Rasya. Saya diminta mengobati kader perempuan yang sedang kesurupan, itu diminta langsung oleh pacarnya.

Semalam Saya mengalami lagi, tapi ke orang yang berbeda. Begitu Saya mendekati kader perempuan itu, matanya merah seperti kelelahan. Sayapun memegang jari kakinya, dia teriak: “panas…panas…panas…” (kayak adegan kesurupan di pelm-pelem/tayangan pemburu hantu), setelah itu iyapun sembuh. Saat saya ngisi materi, katanya kambuh lagi. Saya lupa tidak mengecek lagi karena keburu pulang.

Di perjalanan pulang, ada kejadian kesurupan lagi. Salah satu perempuan rombongan Saya, tiba-tiba ia teriak; “TIDAK SOPAN!!!” Saya berada di jok depan cuek dengan asal suara teriakan itu, dugaan Saya ia dijuwil oleh temannya yang duduk di jok belakang. Begitu agak heboh, dan ada yang meminta menghentikan mobil, Sayapun melihat kebelakang, ternyata Saya melihat perempuan dengan tatapan mata kosong dan mematung. Sayapun menatapnya, dan tak ada respon. Sayapun memegang jari manisnya, dan memintanya menyebut Tuhannya, dia hanya geleng-geleng kepala (tidak mau mengucapkan). Jari manisnya tetap Saya pegang, sambil komat-kamit membaca mantera…wkwkwk. Sekitar 1,5 menit iapun sadar, dan untuk ngecek apakah sudah kembali normal, Saya memintanya untuk menyebut Tuhannya, dan diapun mau menyebutkan. Sayapun juga memberikannya air putih untuk diminum, sepertinya dia juga mengalami dehidrasi. Sepanjang perjalan setian per 10-an menit, Alfan (sambil nyupir) ngecek anak ini, dengan bertanya macam-macam yang menggugah tawanya. Seperti; “Kenapa kalau lampu merah, mobil berhenti?”. Akhirnya, iapun tertidur, hingga tiba di Bangkalan, Sayapun juga tertidur karena ngantuk berat. Setelah Saya turun dari mobil, Saya pamit dan Saya iseng memberi pertanyaan sebagaimana yang dilakukan Alfan; “El, satu tambah satu berapa?” dia jawab; “lima”….wkwkwk. Wuaaaasem!…wkwkwk.

Kenapa bisa kesurupan?

Sepanjang Saya pernah menangani kasus kesurupan (Saya bukan ahli, hanya saja Saya sering kali ada, saat ada orang mengalami kesurupan), Saya melihat ada tipikal yang sama dari mereka yang mengalami kesurupan. Pertama, fisiknya terlampau lemah. Dan yang kedua, orang tersebut mempunyai trauma kesedihan mendalam. Dua hal ini, kait-mengkait dan menyebabkan orang gampang mengalami kesurupan.

Ada yang bilang, bahwa pikiran, perasaan, dan fisik seseorang saling pengaruh mempengaruhi, jika fisik sakit pikiran dan perasaan seseorang akan mengalami ketidak nyamanan. Jika pikirannya yang mengalami ketidak nyaman maka perasaan dan fisiknya juga mengalami hal serupa. Demikian juga, jika perasaannya yang tidak nyaman, pikiran dan fisiknya juga mengalami ketidak nyamanan. Solusinya, agar kita tetap sehat, bisa dengan menjaga fisik dengan rutin olah raga, dan memakan makanan yang sehat. Bukankah ada pepatah Arab; “al-aqlu-s-Salim, fi al-jismi-s-Salim” (Akal yang sehat, terdapat pada tubuh yang sehat)?

Mengenai trauma kesedihan, ini lebih rumit bahasannya. Bagaimana seseorang bisa diketahui mempunyai trauma kesedihan mendalam? Menurut Saya, ini murni tentang kejelian pengamatan, dari tampilan wajah, cara bicara, dan kebiasaan yang bersangkutan. Sebenarnya, semua orang pasti pernah mengalami kejadian yang membuatnya bersedih. Ini bagian kefitrahan adanya berbagai potensi emosi yang ada dalam diri masing-masing orang, termasuk emosi sedih. Pemantiknya, bisa karena mengalami kehilangan sesuatu yang disayangi atau dicintai. Rasa sedih meliputi duka cita, dan depresi jika mengalami kesedihan dalam waktu lama.

Tentang kenapa seseorang bisa sebegitu larutnya dalam trauma kesedihan mendalam, hingga seolah tak bisa melepasnya? Saya menduga ini berhubungan dengan pola asuh orang tua terhadap anak. Manakala orang tua, terlampau lembut (memanjakan) dan terlampau keras pada anak, maka secara tidak langsung orang tua membuat rapuh mental anaknya. Dengan praktek pola asuh sedemikian rupa, menjadikan anak senantiasa kebingunan memahami cinta dan benci, ia kesulitan membedakan keduanya. Dalam keadaan seperti itulah, anak berkembang seolah tanpa konsepsi diri yang kuat.

Selain itu, ada hubungannya dengan lima mesin kecerdasan yang secara alamiah dipunyai semua orang, antara lain; sensing, thinking, intuiting, feeling, dan insting. Orang tipe sensing, ia yang berkecendrungan menggunakan otak kiri bawah (limbik kiri), biasanya orangnya rajin. Cara berpikirnya berpijak pada fakta yang actual, factual, detail serta menyukai hal-hal yang sifatnya praktis, dan pengingat masa lalu yang baik. Orang yang berpikir melalui otak kiri atas, biasanya mesin kecerdasan yang dominan thinking, ia lebih mengutamakan pikiran, logis, lebih tertarik pada sesuatu yang masuk akal, dan adil-objektif. Orang dengan kecendrungan orang seperti ini biasanya pandai. Sedangkan orang Intuiting, karena berpikir dengan otak kanan atas, biasanya kreatif, imajinatif, inspiratif, berorentasi ke masa depan dan suka memberikan peluang alternatif. Orang yang dominan otak kanan bawah (limbic bawah), biasanya Feeling menonjol. Ia penyuka keharmonisan, suka menjadi pemimpin, mendahulukan orang lain, dan pandai berempati. Sedangkan yang terakhir, orang yang menonjol Insting-nya. Ia dominan berpikir dengan otak tengahnya. Orang ini tidak suka menunda-nunda, prinsipnya lebih cepat lebih baik, mengolah informasi menggunakan naluri, menyukai pekerjaan-pekerjaan sosial, mudah beradaptasi, serba bisa tapi biasanya polos. (Keterangan ini, bisa dibaca dalam buku STIFIN PERSONALITY)

Dari beberapa tipe ini, yang paling rentan mengalami kesurupan adalah anak dengan mesin kecerdasan sensing. Orang tipe sensing, punya kekuatan pengingat masalalu yang sangat kuat, namun di satu sisi yang lain kekuatannya bisa menjadi kelemahan, salah satu faktornya karena pola asuh yang keliru dari orang tuanya. Na’udzubillahi min dzalik…

Nah…Saya melihat sepertinya dua orang yang kesurupan semalam, dan beberapa orang yang pernah Saya lihat langsung, rentan mengalami kesurupan karena mereka dominan bertipe sensing. Allahu A’lam bi-s-Shawaab

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close