Sejarah & Budaya

Keris Kiyai Nogo Kikik: Simbol Kesetiaan Orang Madura

Oleh: Muniri, S.HI, M.HI

Jokotole dan Empu Kelleng

Adipoday (Raja Sumenep ke 12) menikah dengan Raden Ayu Potre Koneng. Hasil perkawinan yang konon terjadi dalam mimpi, terjadi hingga dua kali. Dari perkawinan tersebut, lahir Jokotole dan Jokowedi.

Karena hasil dari perkawinan di luar nalar, masyarakat tidak percaya, seolah terkesan hamil diluar nikah. Mendapati anaknya hamil, kedua orang tuanya Raden Ayu Potre Koneng marah dan mengancamnya dihukum mati. Atas usul para ponggawa kerajaan, raden Ayu tidak jadi dihukum mati, tapi begitu anaknya lahir, harus dibuang.

Mendengar itu, Raden Ayu Potre Koneng disembunyikan oleh dayang selama masa hamil. Begitu bayinya dilahirkan, dayang kepercayaanya membawa bayi tersebut dan meletakkannya di hutan. Bayi kecil rupawan dan sehat ditemui oleh seorang Pandai Besi, yang kesohor dalam dunia perkerisan dengan sebutan Empu Kelleng.

Peristiwa kelahiran Jokotole, terulang lagi pada adiknya, yaitu Jokowedi. Nasibnya juga dibuang ke hutang, ditempat kakaknya dibuang. Selanjutnya, bayi tersebut ditemukan oleh Kiyai Padhemmabu.

Entah seperti apa kelanjutan cerita Jokowedi dalam asuhan Kiyai Padhemmabu, dan bagaimana pertemuannya dengan Jokotole. Cerita langsung berlanjut, setelah Jokotole dan Jokowedi dewasa dan mempunyai kesaktian luar biasa. Dua bersaudara ini, sama-sama punya keahlian pandai besi, dan pernah ikut Empu Kelleng memperbaiki pintu gerbang Kerajaan Majapahit. Setelah itu, Raja Mapahit tertarik dengan sosok Jokotole, dan mengambilnya sebagai mantu, selanjutnya pulang ke Sumenep. Sedangkan Jokowedi diambil mantu Adipati Gresik, dan menentap di Gresik.

Sebagai anak asuh dari Empu Kelleng, tentu Jokotole diajari cara membuat peralatan pertanian, dan juga membuat pusaka, berupa tombak maupun keris. Demikian juga, Jokowedi mempelajarinya dari Jokotole.

Jokotole dan Keris Kiyai Nogo Kikik

Sejarah perkerisan Nusantara memang luar biasa. Kemampuan meracik 7 jenis logam menjadi satu bukan pekerjaan mudah, apalagi zaman dulu teknologi tidak secanggih sekarang. Terbukti keris-keris kuno mengandung 5 hingga 7 jenis logam, dengan proses penempaan hingga menjadi sebilah pusaka.

Berbeda dengan proses Jokotole dalam membuat keris saat itu. Ia hanya memakai tangan tanpa media apapun saat membuat keris. Dan konon, karyanya yang paling kesohor adalah Keris Kiyai Nogo Kikik, sebuah pusaka yang diperuntukkan sebagai ageman seorang Senapati. Secara bentuk, keris Kiyai Nogo Kikik umumnya memiliki  gandik yang ditatah berbentuk atau mensetilasi seekor Anjing.

Banyak versi tentang asal usul keris Kiyai Nogo Kikik, tentang siapa pemegang Hak kekayaan Intelektualnya, ada yang berpendapat salah satu karya dari Kiyai Supo seorang Empu dari Demak yang mengabdi di Mataram. Saat diangkat menjadi Lurah Empu, konon diperintahkan oleh Sultan Agung membuat keris Kiyai Nogo Kikik untuk diberikan kepada para Sinopatinya.

Sebagai ageman para Senopati kerajaan, Keris Kiyai Nogo Kikik menjadi simbol simbol keberanian, kegagahan, kekuatan, kecerdasan, dan kesetiaan. Simbol ini sesuai dengan tuntutan sebagai Senopati kerajaan saat di medan laga.

Sebagaimana tabiat Anjing yang selalu setia pada Tuannya, para abdi kinasih (abdi yang terpercaya) yang tergabung dalam pasukan Tilik Sandi Kerajaan (Intelegen Negara) dan beri pusaka berdapur Kiyai Nogo Kikik mereka dituntut setia dan mampu menjaga Kerajaan dan Raja.

Keris Kiyai Nogo Kikik dan Kesetiaan Orang Madura pada Negara

Hampir di semua daerah se Madura, ada cerita rakyat tentang benda keramat dan petilasan Jokotole. Semisal, cerita tuah cemeti Jokotole, jejak kaki kuda Jokotole, dan sebuah kampung yang masyarakatnya dulu sewaktu Jokotole lewat tak mau menyediakan air untuk kudanya, perlakuan masyarakat membuat Jokotole marah, dan ngastoh (mengutuk) kampung tersebut sulit air.

Cerita rakyat tentang Jokotole di atas, cukup kesohor di masyarakat Madura. Namun, cerita tentang hubungan Jokotole dengan Keris Kiyai Nogo Kikik, sepertinya belum pernah terdengar. Penulis mendapatkan cerita dari seorang teman di dunia perkerisan, biasa disebut Ki Susilo Atmojo. Ia menceritakan, sebenarnya pembuat pertama daphur keris Kiyai Nogo Kikik adalah Jokotole, selanjutnya dilanjutkan oleh adiknya (Jokowedi) yang tinggal di gresik, makanya di dunia perkerisan, ada yang menyebut keris Kiyai Nogo Kikik, yaitu; Keris Gresi’an (asal buatan Gresik). Demikian tuturnya.

Berdasar pada cerita rakyat tentang Jokotole, yang tidak hanya berkembang di Sumenep saja (tempat asal dan tinggal Jokotole), maka cerita tersebut memenuhi syarat kategori folklore (bagian dari kebudayaan yang disebarkan atau diwariskan secara tradisional baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai isyarat atau alat bantu pengingat). Hanya saja, cerita rakyat tentang Jokotole dengan keris Kiyia Nogo Kikik hanya berkembang di sekitar Empu-empu pembuat keris di Sumenep.

Walaupun demikian, Penulis merasa tertarik untuk menyebarkan dan mengulas cerita ini, dengan menghubungkan penamaan pulau Madura, yang konon diartikan “Madunya Negara”. Secara mitologis, nama tidak hanya sekedar nama. Sebuah nama yang diberikan serta disetujui tanpa proses jajak pendapat, menyimpan misteri yang mengandung pesan/simbol psikologis.

Selain diartikan Madunya Negara, kata Madura juga sering diplesetkan menjadi Madu dan Darah. Bisa jadi ini bukan kebetulan belaka, melainkan sebuah penandaan psikologis tentang orang Madura. Mungkin maksud dari Madunya Negara, sebenarnya untuk menunjukkan mentalitas orang Madura yang cendrung “setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”. Sedangkan makna Madu dan Darah, dimaksudkan bahwa orang Madura senantiasa memberikan apapun yang berharga kepada yang dicintainya, bahkan darah sebagai taruhannya.

Ulasan arti kalimat Madunya Negara dan Madu-Darah, seolah tanpa pijakan sejarah. Dan ternyata, kalimat kembangan dari kata Madura tersebut menemukan pijakan kesejarahannya dengan asal-usul keris Kiyai Nogo Kikik yang dijadikan simbol keberanian, kegagahan, kekuatan, kecerdasan, dan kesetiaan pada Pimpinan dan Negara. Wallahu a’lam bi al-Shawaab

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close