Lingkungan

Kebersihan Sebagian dari AMAN

Oleh: Muniri, S.HI, M.HI

Iman, Aman, Amin, dan Uman

Dalam sebuah pengajian, Emha Ainun Najib (Emha) menjelaskan keterkaitan kata Iman, Aman, Amin dan Uman. Empat kata ini, memang dari struktur induknya, terdiri dari huruf alif, mim, dan nun. Penjabaran ini jelas memakai ilmu otak atik matuk (cocokologi). Tapi, Emha mampu menjelaskan kaitan kata-kata ini dengan sangat logis.

Menurutnya, iman adalah senjatanya orang mu’min (orang beriman), setiap orang yang bersenjatakan iman, maka tujuan hidupnya adalah menciptakan keamanan. Dimanapun ia berada, maka amanlah semua orang berada di wilayahnya. Ia melanjutkan, bahwa do’a orang beriman adalah Amin.

Kata Amin, dalam tulisan bahasa Arab adalah Aamiin (Huruf alif dan mim dibaca panjang) mempunyai “kabulkanlah”. Dalam bahasa Ibrani mempunyai arti ‘pasti’ atau ‘tentu’. Merujuk pada kata Amin dalam bahasa Ibrani, jika dikaitkan dengan penjelasan Emha tentang do’anya orang mu’min, maka mestinya orang mu’min ‘pasti’ atau ‘tentu’ dikabulkan segala do’a-do’anya. Dan terkabulnya do’a berarti memperoleh sesuatu, yang dalam bahasa Jawa disebut ‘uman’.

Iman itu Aman

Seringkali kita dengar sebuah kalimat yang sangat indah: “Annadhafatu min al-Iman (kebersihan adalah sebagian dari iman)”. Kalimat ini sering dijadikan jargon menjaga kebersihan, walaupun faktanya banyak orang yang mengaku beriman tetapi tidak demikian adanya.

Nuansa keterkaitan antara kebersihan dan keimanan dalam kalimat ini, bisa jadi bermakna tolak ukur, semakin awas seseorang dalam menjaga kebersihan, semakin tinggi iman seseorang. Sebaliknya, jika seseorang suka membuat kotor, atau apatis pada pentingnya kebersihan, maka sebenarnya ia telah abai dengan imannya.

Sedemikian pentingnya budaya kebersihan, sehingga orang-orang terdahulu menjadikannya sebagai tolak ukur keimanan. Setelah direnungi, ternyata memang kebersihan sangat berhubungan dengan keamanan. Salah satu bukti, adanya wabah Covid-19 seolah memaksa semua orang untuk memperhatikan kebersihan, anjuran mencuci tangan, memakai masker saat keluar rumah dan anjuran-anjuran lainnya tengah menjadi penentu keamanan bagi diri dan orang lain.

Bukankah juga dengan dengan keamanan terjaga, maka segala tujuan-tujuan hukum Islam menjadi terpenuhi dengan baik.

Dengan keamanan terjaga, maka beribadah menjadi tenang (hifdzun Ad-din/memelihara agama), dan terpeliharanya hubungan kemasyarakatan yang baik (hifdzun Al-nafs/memelihara jiwa), serta orang bisa berpikir dengan baik, dan bisa menuangkan karya-karyanya untuk kebaikan bersama (hifdzun Al-aql/memelihara akal sehat)

Demikian, dengan orang-orang yang aman dari kemalingan, dan bisa membelanjakan hartanya dengan aman dan baik (hifdzul Maal/memelihara harta), dan yang sedang mengandung bisa tenang hingga anaknya lahir dengan sempurna, dan anaknya bisa menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, masyarakat, bangsa dan Negara (hifdzun Nasl/memelihara keturunan)  

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close