Advokasi

ISNU Bangkalan: Pelantikan dan Seminar Nasional

Hari ini, pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) kabupaten Bangkalan dilantik di Pendopo Agung I Bangkalan. Sekaligus seminar yang mengangkat tema “Optimalisasi Pengelolaan Migas untuk Kesejahteraan Rakyat”.

M. Kholid Syeirazi (Sekretaris Umum PP ISNU) dan narasumber seminar lainnya sepakat, bahwa optimalisasi pengelolaan Migas menjadi prioritas utama. Di samping itu, melakukan langkah penghematan agar Sumber Daya Alam (SDA) tidak dieksploitasi besar-besaran, tanpa memperhitungkan kepentingan generasi penerus bangsa.

Optimalisasi SDA migas untuk kesejahteraan rakyat Indonesia, juga mengandung arti sebuah upaya bertahap membebaskan industri migas Indonesia dari pengelolaan bangsa asing. Apalagi masa kontrak perusahaan asing sudah banyak yang hampir habis. Hal ini, menjadi kesempatan bagi pemerintahan Indonesia, untuk mengurangi larinya manfaat dari kegiatan eksploitasi SDA migas Indonesiai ke negara lain.

Rachmad Hidayat (Dosen Unijoyo Bangkalan) memberikan contoh yang terjadi di Mesir, berusia 2.000 tahun, dan mempunyai kekayaan Alam berupa Migas. Demikian juga dengan India berusia 1.800 tahun, kekayaan alamnya berupa Nikel dan Tembaga. Namun dua Negara ini, tidak sesejahtera Negara SWISS, yang usianya 150 tahun dan tidak mempunyai kekayaan alam, dan Negara Jepang, usia negaranya 70 tahun, dengan kondisi alam 80% pegunungan. Namun, dua Negara ini, secara ekonomi makmur dan serta banyak bangunan megah dan mencakar langit.

Maka dari itu, sangatlah ironis kalau ternyata daerah atau negara penghasil SDA migas yang berlimpah, namun rakyat di daerah penghasil SDA migas tersebut, atau negara penghasil migas ini tetap miskin bahkan hutangnya sampai ribuan trilyun. Sementara negara-negara para kontaktor itu semakin jaya saja.

Foto bersama denga Ketua PC NU Kabupaten Bangkalan

Upaya-upaya Seharusnya dilakukan Oleh Pemerintah

Masih banyak orang yang menyalahkan para investor dan para konglomerat industri migas. Sebenarnya, kalau kita jernih sedikit saja keslahan ini bisa diarahakan kepada para pemimpin bangsa Indonesia sendiri. Mereka tidak mampu mengelola hasil pembagian kerjasama pengelolaan industri migas dan lambat dalam berbenah. Sementara Negara lain sudah berbenah, dan sudah berhasil menyalip bangsa Indonesia dalam membuat kesejahteraan rakyatnya, sementara kita masih membesar-besarkan perbedaan hanya berbeda membaca qunut atau tidak qunut.  

Padahal, SDA migas Indonesia perlu upaya penyelamatan, karena selama ini pemerintah Indonesia tingkat pedulinya masih relatif rendah terhadap problem bangsa yang ada. Mereka kurang serius berpikir bahwa SDA migas ini mempunyai peranan yang sangat penting bagi perbaikan kesejahteraan bangsa Indonesia. Dalam rangka menyelamatkan asset bangsa ini. Berikut yang perlu menjadi pertimbangan;

Menjadikan SDA Migas Layaknya Jantung Manusia

Begitu krusialnya SDM Migas bagi kesejahteraan rakyat Indonesia. Ibaratkan jantung, berhenti berdegub bisa menjadi memicu masalah anggota tubuh yang lain. Artinya, bagi rakyat Indonesia peran migas ini, bermanfaat langsung bagi rakyat untuk menumbuhkan dan mengembangkan perekonomian bangsa Indonesia.

Lainnya, pemanfaatan migas yang tepat, efek multi-pliernya akan bisa membuka lapangan kerja yang seluas-luasnya bagi rakyat Indonesia. Efeknya, kesejahteraan rakyat bisa diwujudkan. Ini semua akan terwujud, jika pemerintah Indonesia mampu memanfaatkan sumber daya alam migas dengan baik.

Menyiasati Kontrak Kerja

Awalnya, Negara kita memang belum memiliki anggaran untuk mengelola industri migas, dan SDM kita juga belum menguasai teknologi pertambangan migas. Untuk mengatasi ini, pemerintah melakukan kerja sama dengan investor dari berbagai negara. Dalam kontrak kerja, pihak investor harus melibatkan orang Indonesia. Saat itulah, pekerja-pekerja dari orang kita sambil belajar. Saat anak bangsa ini mulai menguasai teknologinya, maka pemerintah atau Pertamina harus mengambil alih pengelolaan industri migas yang masa kontraknya akan berakhir.

Mengurangi Impor BBM

Menurut Pertamina, kebutuhan minyak mentah dalam negeri pada tahun 2014 yang lebih banyak dipasok darik proses impor. Pada tahun 2015, pasokan dari impor mulai mengurang, tapi kebutuhan kebutuhan BBM kita, walaupun tidak ada subsidi atau subsidinya dikurangi tetaplah tinggi. Untuk itu, kita butuh memperbanyak pasokan migas dari produksi dalam negeri agar impornya tidak terlalu banyak.

Memperbanyak pasokan migas dari dalam negeri ini, bisa disiasati mengambil alih beberapa Blok Migas yang akan habis masa kontraknya. Cara ini, akan memberikan harapan baru bagi bangsa Indonesia agar bisa mendapat pasokan migas dari dalam negeri sehingga impor BBM bisa semakin menurun.

Mengupayakan Penambahan Signifikan kekayaan migas Indonesia

Sekitar tahun 1980-2000, Indonesia menjadi eksportir migas. Saat ini, berubah menjadi importer BBM, hingga kini cadangan migas Indonesia masih belum menunjukkan penambahan yang berarti. Jika ke depan ini belum juga ditemukan cadangan migas terbukti yang baru, maka cadangan minyak kita diperkirakan dalam waktu 11 tahun akan habis.

Dari beberapa temuan cadangan migas yang sudah terbukti adanya, jumlahnya kisaran 100,25TSCF. Sedangkan yang masih perlu dibuktikan dengan eksplorasi sebesar 49,04 TSCF. Maka, apabila potensi cadangan gas yang kebenarannya masih perlu dibuktikan dengan eksplorasi sebesar 49,04 TSCF. Kalau produksi per harinya sebesar 2,87 TSCF maka diperkirakan cadangan gas ini akan habis setelah 34 tahun. Ini lumayan, daripada 11 tahun.

Satu sisi, cadangan migas yang masih memerlukan pembuktian dengan melakukan kegiatan eksplorasi masih terbentur dengan perizinan, yang panjang dan rumit. Makanya, Pak Jokowi selaku Presiden, dalam pidato saat pelantikannya berkomitmen akan memangkas proses perizinan, agar lebih cepat. Birokrasi seharusnya dapat menghitung ini, dengan mempertimbangkan kesejahteraan rakyat yang lebih baik.

Sebuah Harapan

Berkurangnya impor BBM dan adanya perubahan paradigma berpikir kita terhadap migas, maka neraca perdagangan kita diharapkan akan lebih baik. Ini akan mempengaruhi naiknya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Kalau nilai tukar rupiah terhadap dolar menguat, maka harga bahan baku industri yang masih imporpun akan terdongkrak menjadi lebih murah. Ongkos produksi listrik, LPG, dan transportasi juga lebih murah, sehingga harga barang-barang produksipun menjadi lebih murah karena biaya produksinya murah.

Agar urusan industri migas benar-benar bisa bermanfaat secara maksimal bagi kesejahteraan rakyat Indonesia, maka harus ada kekompakan. Urusan  migas ini, tidak hanya menjadi urusan Pertamina saja, tetapi semua pihak yaitu: presiden, para menteri terkait, DPR, SKK migas, Pemda, LSM, cendekiawan dan rakyat perlu mengetahui berbagai permasalahan yang ada. Setelah itu baru dirumuskan kebijakan industri migas yang paling tepat, dan paling menguntungkan bagi kita semua.

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close