Sejarah & Budaya

Gentong Kecil: Tradisi Yang Hilang

Oleh: Dr. Iksan K. Sahri, M.Pd.I

Saat saya masih suka jalan kaki menyusuri desa-desa dan melewati rumah-rumah. Dulu saya dengan sangat mudah menemukan gentong kecil di depan atau di samping rumah penduduk yang saya lewati. Kalau bukan gentong kecil berpancuran biasanya dulu kita dengan mudah menemukan kendi di depan rumah orang-orang desa. Gentong kecil ini biasa juga disebut oleh teman-teman santri di Jawa sebagai padasan. Saya tidak tahu kenapa disebut demikian, mungkin berasal dari kata tempat menghilangkan hadas kecil.

Pada masa itu, keberadaan gentong kecil atau kendi di depan rumah orang-orang ini sangat berguna bagi musafir seperti saya atau musafir lainnya untuk sekedar menumpang seteguk dua teguk air lalu melanjutkan perjalanan kembali.

Guna gentong kecil itu selain buat minum para pengelana juga berguna untuk berwudhu, mencuci muka dan mencuci kaki sebelum masuk rumah bagi para tetamu. Kebiasaan ini entah dimulai sejak kapan. Bisa jadi sejak pasca masa pandemic 1919, bisa jadi sejak masa Mataram Islam, atau bahkan bisa jadi sudah menjadi tradisi sejak sebelum masa itu. Perlu penelitian khusus terkait hal ini.

Orang jaman dulu percaya bahwa dengan membasuh muka, tangan, dan kaki kita saat akan masuk ke rumah maka kita tidak akan membawa “sawan” Ke dalam rumah tersebut. Istilah “sawan” Ini sendiri juga tidak terlalu jelas pengertiannya. Sama tidak jelasnya dengan lagu India, “sawan kamahena bawane thore thor”. Cuma ia bisa berarti penyakit yang tidak dapat dipahami apa penyebabnya atau biasa juga di-ta’alluq-kan kepada barang gaib. Tidak masuk akal, bisa jadi iya, tetapi bisa pula karena akal dan pengetahuan kita yang belum sampai ke sana.

Sehingga sebenarnya, masyarakat kita punya budaya kebersihan sejak dahulu kala. Sebelum orang-orang Barat menemukan tissue sekali pakai yang kemudian menjadi sampah lingkungan itu. Hanya seperti yang kita tahu, globalisasi membuat cara pandang kita tentang peradaban berubah. Bentuk rumah berubah, perilaku berubah, dan bahkan bentuk masjid di Nusantara pun perlahan berubah. Semuanya biasanya dengan berubahnya rasa estetika dan filosofi penduduk Nusantara atas peradaban.

Sekarang, menemukan gentong kecil berlubang di rumah-rumah orang desa (apalagi di kota) sudah sangat sulit. Bagi kami para musafir harus pintar-pintar sedia air atau mencari sumur atau sungai saat kami kehausan.

Sengaja saya menulis ini, karena sejak kasus Corona ini merebak, pemerintah dan masyarakat internasional menggalakkan cuci tangan setelah keluar rumah. Masyarakat pun berbondong-bondong melakukan hal ini seakan-akan itu hal baru bagi mereka. Padahal para orang tua mereka sudah biasa melakukannya sejak dulu bahkan menyiapkan sarananya untuk melakukan itu, dengan sangat sederhana dan efektif.

Sekarang, baik di kota maupun di desa sudah mulai marak kita temukan tempat cuci tangan. Bentuknya bisa terbuat dari tong bekas atau tandon tempat penampungan air. Tentu kita apresiasi atas hal tersebut. Hanya yang tak boleh lupa, setelah pandemic ini lewat, budaya bersih itu harus tetap kita rawat karena kita tak pernah tahu kapan pandemi akan dating kembali di masa yang akan datang. Dogma agama yang dipakai selama ini harus ditambah dengan dogma kesehatan dan dogma kesadaran lingkungan. Dengan begitu, kita bisa hidup selaras dengan alam.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close