ArtikelPerempuan & Anak

Dua Fakta Mengiris Hati: Stop Nikahi Anak di bawah Umur!!!

Dr. Holilurrahman, M.HI (Dosen Fakultas Shari'ah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya)

Perdebatan tentang nikah anak tak pernah selesai. Jika boleh dikelompokkan, ada dua pendapat mengenai pernikahan anak.

  1. Pendapat pertama menyatakan boleh dilakukan. Dasarnya adalah pernikahan Rasulullah dengan Aisyah. Dasar kedua adalah tidak ada penjelasan dalam al-Qur’an dan hadis, dan tidak ada keterangan dalam kitab 4 mazhab mengenai larangan menikahi anak. Bahkan dalam kajian fiqh iddah, salah satu macam iddah adalah iiddahnya anak kecil yang belum pernah haid. Ini adalah indikator yang menunjukkan kebolehan nikah anak.
  2. Pendapat kedua melarang keras menikahi anak di bawah umur. Alasan paling kuat adalah karena akan terjadi kemudaratan bagi anak perempuan, baik kemudaratan fisik ataupun psikis. Beberapa penelitian menunjukkan bahaya pernikahan anak di bawah umur, di antaranya menyebabkan kematian ibu dan anak ketika melahirkan, rentan terjadi kekerasan, dan mudah terjadi perceraian karena kurangnya ilmu, persiapan, dan pengalaman. Berkaitan dengan hadis pernikahan Rasulullah SAW dengan Sayyidah Aisyah, telah banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa hadis tersebut cacat secara sanad dan matan, dan bertentangan dengan kajian sejarah.

Pernikahan anak biasanya tidak terlepas dari peran orang tua yang “memaksa” anaknya menikah dengan laki-laki pilihan orang tua. Ada banyak faktor dan alasan, di antaranya adalah faktor kemiskinan, hutang budi, tidak mampu merawat anak, adat dan tradisi, dan lain sebagainya.

Dalam sebuah Diskusi Buku secara online tentang “Pencegahan Perkawinan Anak dan Perkawinan Paksa melalui kajian Buku “Fiqh Perkawinan”, Bu Nyai Bahrul Ulum (Penulis Buku) menyampaikan beberapa fakta mengejutkan:

  1. Ada seorang perempuan berusia 14 tahun, dinikahkan “paksa” dengan laki-laki berumur 31 tahun. Dia dicabut “paksa” dari pesantren karena si laki-laki sedang cari jodoh. Si anak dipaksa menikah oleh orang tua si laki-laki.

Cerita tragisnya, si anak perempuan diceraikan ketika hamil 4 bulan, lalu ditelantarkan. Bahkan si anak perempuan sudah 2 x kawin dan berakhir dengan perceraian. Menurut ceritanya, dia Jadi TKI di luar negeri

  1. Ada anak perempuan berusia 16 thun kelas 1 SMA. Dia dikeluarkan dari sekolah oleh pak de nya, seorang tokoh masyarakat. Ketika usia kandungan 7 bulan, si anak perempuan diceraikan, lalu ditelantarkan. Ketika sudah cerai, yang menanggung resiko ekonomi adalah keluarganya. Si anak perempuan 3 x kawin dan berakhir dengan perceraian. Sekarang dia jadi TKW di malaisiya

Menurut kesimpulan Bu Nyai bahrul Ulum, “Perkawinan anak berkelindan dengan kemiskinan dan kekerasan. Semakin banyak kemiskinan, semakin banyak perkawinan anak. Ketika terjadi perkawinan anak, ada kekerasan. Menurut kajian Maqasid al-Syariah, pernikahan yang menyebabkan kemudaratan Hukumnya haram. Pernikahan seharusnya membawa kemaslahatan kedua belah pihak, melahirkan ketenangan (sakinah) dengan penuh cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahamah) sebagaimana arahan al-Qur’an dalam surat ar-Rum ayat 21.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.

Berkaitan dengan ini, menarik sekali pendapat mazhab Hanafi dalam kitab al-Fiqh ala Mazahib al Arba’ah, bahwa salah satu Adab nikah, yaitu “JANGAN NIKAHKAN ANAK GADIS (PEMUDI) dengan LAKI-LAKI TUA, dan JANGAN MENIKAHKAN dengan LAKI-LAKI TERCELA.

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close