Perempuan & Anak

Ca’oca’an dan Strategi Mengabadikan Makna Tunggal Pernikahan Dini

Oleh: Muniri, S.HI, M.HI

Sekilas Tentang Ca’oca’an

Ca’oca’an merupakan hasil pengamatan fenomena sosial, selanjutnya disusun, disampaikan dan menjadi viral di tengah-tengah masyarakat. Meski awal mulanya bersifat ‘slentingan’, namun ada keunikan dari subtansi sebuah ca’oca’an, yang tidak sekedar menyampaikan ketidak jelasan makna dari wacana, melainkan juga korelasinya dengan wacana lain yang hendak dihubungkan, sehingga selain untuk sebuah respon yang insidental atas fenomena sosial dan alam, juga menjadi upaya  pengokohan kebenaran transendental.

Rangkaian kalimat dalam ca’oca’an umumnya singkat dan padat, hasil dari kristalisasi pengalaman hidup penuturnya. Karena rangkaian kalimatnya yang singkat dan mudah diingat, ca’oca’an biasanya gampang ditemukan dalam perbincangan keseharian. Pengertian ca’oca’an sepadan dengan peribahasa yang dirumuskan oleh Mieder. Menurutnya, peribahasa adalah ungkapan kalimat singkat, mudah diingat, diwariskan dari masa ke masa dan berisi nilai-nilai kebijaksanaan yang dikenal oleh masyarakat luas.

Ca’oca’an dalam Tinjauan Analisis Wacana Kritis

Ca’oca’an sebagai rangkaian bahasa tentu berhubungan dengan studi mengenai bahasa atau pemakaian bahasa. Sedangkan bahasa dalam pandangan analisis wacana kritis tidak hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka yang terpisah dari penuturnya, dan tidak hanya berhubungan dengan upaya penafsiran untuk menemukan makna sesungguhnya tentang tuturan Si Penutur. Lebih dari itu, analisis wacana kritis lebih menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi saat proses produksi dan reproduksi makna.

Ca’oca’an yang bernuansa legalisasi pernikahan dini merupakan fokus utama berlangsungnya praktek kuasa wacana. Dengan kritik wacana sebagai pisau analisis, ca’oca’an dimaksudkan menjadi gugusan diskursif yang selalu menampilkan kebenaran mutlak. Sedangkan kebenaran mutlak tidak akan pernah terjadi dan tidak mungkin tercapai tanpa menegasikan kebenaran-kebenaran lain yang tidak sehaluan.

Adanya ca’oca’an “Oreng bhini’ mon omor eyattas 12 taon, mon gita’ andhi’ bhekal eyanggep ta’ pajuh (Perempuan yang berumur di atas 12 tahun, jika belum mempunyai tunangan dianggap tidak laku)”, “Andhi’ ana’ bhini’ bhedeh neng kennengan kala, mon bedeh se mentah dulih beghi” (Punya anak perempuan berada di posisi kalah, kalau ada yang meminang segera terima), dan “Je’ pasakolah ana’eh mon lo’ deddiyeh prabhen toah (Jangan disekolahkan anakmu, agar tidak menjadi perawan tua). Tentunya diusung untuk menggiring khalayak pada jalan pikiran dan kebenaran tertentu, yaitu legalisasi pernikahan dini.

Beberapa Strategi Mengabadikan Makna Tunggal

Sekurang-kurangnya ada tiga tahapan dalam rangka menyusun dan melestarikan kuasa ca’oca’an:

Mekanisme klasifikasi

Melalui mekanisme klasifikasi. Pada tahapan ini, ca’oca’an menjadi kepanjangan tangan ajaran agama yang berkaitan dengan anjuran menyegerakan menikah. Dengan segera menikah berarti menghindari terjadinya perzinahan, sedangkan perzinahan merupakan dosa besar, dan jika dosa besar dibiarkan terjadi, semua orang akan mendapatkan kemarahan Sang Pencipta. Dengan logika ini, selanjutnya menjadi standar untuk menggolongkan apa yang harus dilakukan, dan mana yang harus ditinggalkan.

Melalui mekanisme klasifikasi ini, masyarakat tampaknya sangat berkepentingan menciptakan sebuah standar yang padagilirannya dapat dipakai sebagai penanda atas perempuan dengan kategori ta’ pajuh lakeh, dan prabhen toah. Upaya penandaan sedemikian rupa terus berlanjut pada penilaian perempuan dimaksud, menjadi perempuan “yang baik” dan “yang buruk”.

Padahal sebenarnya, tidak ada hubungan alamiah antara bentuk atau penanda dengan makna atau petanda. Sebagaimana dikatakan Sausseru yang dikutip oleh Piliang, bahwa hanya konvensi sosial sajalah yang mengatur, dan menciptaan petanda dan penanda seolah ada makna subtantifnya.

Sebagian masyarakat, khususnya yang menikah di usia dini mengalami ketakutan menjadi perempuan ta’ pajuh lakeh dan prabhen toah. Sebenarnya, mayoritas dari pelaku pernikahan dini, khususnya dari pihak perempuan (istri), mereka beranggapan adanya rasa takut tidak muncul dari dirinya sendiri saja, mereka mendapatkan injeksi ketakutan yang signifikan dari kedua orang tuanya. Sedangkan orang tuanya, mendapatkan injeksi ketakutan dari lingkungan masyarakat desa setempat yang cara pandangnya setuju dengan pernikahan dini.

Mekanisme Negasi

Mekanisme ini merupakan tahapan peneguhan pemberian tanda atas perempuan dengan kategori ta’ pajuh lakeh, dan prabhen toah disepadankan dengan penilaian pada perempuan yang sudah cukup umur, tapi belum menikah dianggap “yang buruk”.

Dapat dipahami, untuk menjadikan pendapat orang lain salah, maka dengan sendirinya kita membutuhkan argumen pembenar dari sekian pendapat, dalam kontek ca’oca’an ini, legitimasinya adalah dalil al-Qur’an dan al-Hadits.

Apalagi mayoritas masyarakat beragama Islam, cara beragamanya masih berada diderajat taqlid tentu sangat minim referensi lain, mereka tidak mungkin menyimpang dari ajaran yang sudah ada dan menjadi kebiasaan, ditambah lagi pembenaran oleh figur otoritas (tokoh agama) di desa setempat.

Ca’oca’an yang dilegitimasi dengan al-Qur’an dan al-Hadits, dan dibenarkan oleh figur otoritas, merupakan sebuah proses pembentukan dan konstruksi realitas dengan tujuan adanya bagian tertentu dari realitas yang lebih menonjol dan lebih mudah dikenal, dan tentu berguna untuk mendisiplinkan kognisi perempuan agar menyegerakan menikah.

Hasrat Kekuasaan Patriarkhi

Ca’oca’an ini adalah hasrat kekuasaan yang ditelikungkan pada medan lain. Target untuk mewujudkan obsesi mengabadikan patriarkhisme Islam atas pertimbangan hasrat penguasaan terhadap perempuan. Patriarkhisme nantinya lambat laun menjadi sebuah pengetahuan, yang akhirnya dijadikan alat legitimasi hasrat kelelakian, dan tentunya dengan satu tujuan, yaitu menjadikan perempuan sebagai subordinat dari laki-laki.

Ca’oca’an yang bernuansa legalisasi pernikahan dini, seperti “oreng bhini’ mon omor eyattas 12 taon, mon gita’ andhi’ bhekal eyanggep ta’ pajuh (Perempuan yang berumur di atas 12 tahun, jika belum mempunyai tunangan dianggap tidak laku)”, “Andhi’ ana’ bhini’ bhedeh neng kennengan kala, mon bedeh se mentah dulih beghi” (Punya anak perempuan berada di posisi kalah, kalau ada yang meminang segera terima), dan “Je’ pasakolah ana’eh mon lo’ deddiyeh prabhen toah” (Jangan disekolahkan anakmu, agar tidak menjadi perawan tua). Memang sengaja dilestarikan melalui mekanisme klasifikasi, negasi, dan hasrat kekuasaan kaum laki-laki, untuk menciptakan rasa takut pada perempuan agar tidak menjadi perempuan ta’ pajuh lakeh dan prabhen toah. Akhirnya, perempuan dipaksa menyetujui legalisasis pernikahan dini.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close