Sejarah & Budaya

Bhiruh Dheun Sebuah Persepsi Warna à la Orang Madura

Oleh: Dr. Mahmud Syaltout

Orang Madura itu memiliki persepsi sedikit berbeda tentang warna. Kita menyebut warna hijau sebagai biru daun. Bukan karena buta warna, tapi karena kita terbiasa melihat sesuatu itu asal usul secara genealogis, keaslian, aslinya aslih, dan juga dengan spektrum tertentu.

Bhiruh Dheun, atau hijau atau biru daun secara genealogis, berasal dari warna bhiruh (biru) dan konéng (kuning).

Sedangkan warna Bhiruh Langngi’ atau biru langit yang menunjuk pada warna biru pada umumnya, juga sekali lagi menunjukkan genealogi biru sekaligus spektrumnya.

Padahal jika mengenal atau belajar spektrum warna, sebenarnya persepsi à la orang Madura ini bisa dibilang tepat juga.

Karena kita mengenal juga satu spektrum sky blue (biru langit), selain ultra marine, cobalt blue, Prussian blue, Argentinian blue, Egyptian blue, baby blue, light blue, periwinkle, powder blue, ice blue, crayola blue, pantone blue, Uranian blue, medium blue, Ruddy blue, Savoy blue, Spanish blue, Delft blue, dan seterusnya.

See?

Jadi perspektif orang Madura tentang warna ini, menurutku sesuai dengan pandangan Dipesh Chakrabarty dalam “Provincializing Europe: Post Colonial and Historical Difference” bahwa imajinasi atas realitas, termasuk atas warna, bergantung pada kemampuan pikiran manusia (human mind), dan kemampuannya memvisualisasikan. Seperti Bhiruh Langngi’ maupun Bhiruh Dheun, sejatinya menunjukkan kemampuan pikir orang Madura jaman dulu, memvisualisasikan biru ini (warna langit) itu begini lho, dan ini berbeda dengan visual biru yang lain, termasuk Bhiruh Dheun.

Sekali lagi, penyebutan warna khas orang Madura tersebut, tidak akan mengganti atau menggeser esensi warna tersebut. Begitu juga, bukan berarti Bhiruh Langngi’ itu lebih ndhéso dibanding penyebutan sky blue oleh orang-orang berbahasa Inggris, atau azure dalam bahasa rumpun latin (termasuk Prancis, Italia, Spanyol, Portugis). Begitu pula sebaliknya.

Seperti contoh yang diberikan oleh Dipesh Chakrabarty, air (bahasa Indonesia), banyu (bahasa Jawa), aéng (bahasa Madura), cai (bahasa Sunda), eau (bahasa Prancis), water (bahasa Inggris), pani (bahasa India) atau H2O esensinya sama, tidak ada yang lebih benar dibanding yang lain, tidak ada yang lebih ilmiah dibandingkan yang lain.

Sekali lagi ini tentang persepsi manusia dan sejarahnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close