Sejarah & Budaya

Aneka Pribahasa Madura Tentang Etos Kerja dan Hubungan Sosial

Oleh: Muniri, S.HI, M.HI

Masyarakat Madura, sebagaimana masyarakat lain di dunia, memiliki sejumlah ajaran nilai. Ajaran nilai ini, menjadi referensi berpikir dan bersikap yang positif. Ada banyak peribahasa khas Madura, tapi dalam tulisan ini  mencukupkan sekitar yang berhubungan dengan etos kerja dan hubungan sosial.

Berkaitan dengan etos kerja

Lakona lakone, kennenga kennengngi

Terjemahan secara sederhana: “ Kerjakan dengan baik apa yang menjadi pekerjaanmu, dan tempati dengan baik pula apa yang telah ditetapkan sebagai tempatmu”. Pepatah ini mengajarkan betapa pentingnya penghormatan atas hak orang lain dengan dimulai dari menata posisi diri sendiri dalam kontek pergaulan sosial seluas-luasnya, sekaligus memberikan tuntutan pentingnya profesionalisme dalam kerja.

Kar-karkar colpe’.

Terjemahan sederhana:” Seperti seekor ayam yang mencakar-cakar tanah mencari makanan meskipun yang didapat hanya sedikit tapi terus dilakukan penuh semangat dan keuletan sampai akhirnya kenyang”. Pepatah yang mengajarkan pentingnya kesabaran dalam berusaha, hidup hemat untuk mencapai sukses, namun tetap memelihara semangat dan optimisme.

Sapa atane bakal atana’.

Artinya: “Siapa tekun bertani akan menanak nasi; ungkapan tentang etos kerja orang Madura”. Disini diajarkan betapa orang harus mau menerima konsekuensi dari apa yang telah diperbuatnya, baik yang bernilai positif maupun negatif. Jadi diajarkan kebesaran hati dalam menerima suatu dampak.

Sapa adagang bakal adaging

Artinya: “ Siapa rajin berdagang akan berdaging/sehat; etos kerja keras”. Ajaran giat dalam berusaha.

Berkaitan dengan Hubungan Sosial

Oreng deddi taretan, taretan daddi oreng

Atinya: “Orang lain yang bukan keluarga dapat dianggap sebagai saudara, sebaliknya saudara sendiri dapat dianggap sebagai bukan keluarga”. Ini mengisaratkan pada ajaran pembelaan orang Madura terhadap yang benar dan penolakan pada yang salah tanpa pandang bulu.

Aotang pesse majar pesse, aotang nyaba majar nyaba

Artinya: “Jika hutang uang harus bayar dengan uang, hutang nyawa harus dibayar nayawa”. Disini diajarkan hukum kesetimpalan jika berbuat baik pada orang tentunya akan dibalas dengan kebaikan pula, demikian juga jika pernah berbuat jahat maka ganjarannya juga kejahatan atas mereka yang melakukan kejahatan.

Oreng lake’ mate acarok, oreng bine’ mate arembi’

Artinya: “laki-laki biasa mati karena carok, seperti perempuan mati karena melahirkan”. Diajarkan bagaimana menjadi seorang laki-laki yang seharusnya mempunyai sifat satria sepanjang hidupnya, demikian perempuan harus mempunyai sifat lembut dan mengayomi sepanjang hidupnya.

Lokanah daging bisa ejei’, lokanah ate tada’ tambanah kajebe ngero dere

Artinya: “ Lukanya daging masih bisa diobati/dijahit, tetapi jika hati yang terluka tidak ada obatnya kecuali minum darah”. Ajaran agar selalu berhati dalam berbicara dan bersikap takut membuat sakit hati orang, karena kalau sampai oranmg sakit hati suatu saat ia akan melakukan pembalasan yang lebih kejam dari apa yang kita lakukan.

Rampak naong, baringin korong

Artinya: “Suasana teduh penuh kedamaian layaknya berada di bawah pohon beringin yang rindang”. Diajarkan nilai-nilai kehidupan orang Madura yang berkaitan dengan kehidupan penuh harmoni, yang selalu mencita-citakan menjadi insan yang rahmatal lil ‘alamin.

Mon sogi pasoge’

Artinya: “Kalau kaya harus siap menjadi penyangga penderitaan orang miskin”. Ajaran prinsip hidup agar selalu bersikap luman pada masyrakat miskin, dan pada semua orang yang membutuhkan uluran tangan.

Mabenah ‘kan talpaktana, ghi’ maba’an pole

Artinya: “Serendah-rendah penghormatan, orang Madura masih lebih rendah lagi dalam menghormati orang”. Ajaran bagaimana memberikan penghormatan pada orang lain, jika orang lain menghormati kita harus lebih menghormati pada mereka.

Pribahasa-pribahasa ini, merupakan catatan-catatan penulis saat mengikuti lokakarya penyempurnaan modul pendidikan perdamaian berbasis pesantren di Hotel Madinah Pamekasan sekitar 14 tahun yang lalu. Penulis merasa perlu menyebarkan catatan kearifan lokal (Madura) ini, dan perlu direkomendasikan sebagai pelajaran muatan lokal mulai tingkat Sekolah Dasar.[]

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close