ArtikelOpini

Ajher Ka Ollenah: Mengurai Kaitan Luka Batin, Inner Child dan Fanatisme

Oleh: Muniri Faqod, M.HI

Awalnya, dari bertanya-tanya tentang fenomena fanatisme yang makin tidak masuk akal, malah cendrung brutal. Lama sekali, Saya menimbang-nimbang dan mencoba mengkajinya, hingga memutuskan bergeser dari fanatisme yang membuat hati gundah. Namun, kegundahan hati tak menjadikan diri ini berani untuk memperkarakannya, hingga berani mengkritisi fenomena fanatisme yang dilancarkan dua kubu, yakni Cebong (pro pemerintah) dan Kampret (kontra pemerintah).

Saya sendiri, masuk kategori fanatik kubu Cebong. Tapi akhirnya mulai menyadari bahwa fanatisme ini mulai merusak kejernihan berpikir, dan mengeraskan hati pelakunya. Absennya pikiran yang jernih dan hati yang bijaksana yang disebabkan fanatisme ini menjangkiti semua kalangan, baik yang tidak terdidik maupun yang terdidik. Fenomena inilah, yang membuat Saya bertanya-tanya, Why?

Saat duduk termenung dengan pertanyaan itu, tiba-tiba intuisi Saya mendapatkan bisikan tentang “efek luka batin”. Tentang luka batin dan efeknya dalam kehidupan seseorang, pernah Saya pelajari pada tahun 2009 dalam sebuah pelatihan pemberdayaan diri, selanjutnya Sayapun membuka internet untuk mempelajari kembali apa itu luka batin dan inner child hubungannya dengan fanatisme.

Apa itu luka batin?

Sebagaimana tubuh manusia yang terluka karena terkena sayatan pisau akan terasa perih, bahkan sampai mengeluarkan darah. Jiwa manusia juga bisa terluka, hanya saja berbeda dengan luka di tubuh. Luka yang ditimbulkan pada jiwa melalui gerbang pikiran, emosi, perasaan, intelek dan pengalaman.

Psikolog menyebut luka batin semacam trauma yang dirasa amat sangat menyakitkan yang terjadi dari suatu peristiwa tidak menyenangkan yang dialami oleh seseorang pada masa lalu. Luka batin pada sebagian orang ada yang dialami saat masih anak-anak yang terbawa hingga dewasa, dan tidak mudah dilihat dan dideteksi kesembuhannya, karena luka batin terjadi pada lapisan batin yang terdalam akibat tekanan yang terjadi secara luar biasa berat atau terjadi terus menerus.

Batin yang terluka akan menimbulkan kesedihan yang mendalam, perasaan tidak menentu, kemarahan, emosi tidak terkendali, kejengkelan, hidup tidak terarah, sesekali timbul keinginan mengakhiri hidup yang terasa pahit. Jika, dibiarkan maka akan menjadi kerak dan berdampak terhadap kehidupan kita.

Dampak dari luka batin akan membentuk kepribadian seseorang saat dewasa, seperti apa diri seseorang dan bagaiamana seseorang melihat dunia. Termasuk reaksi-reaksi seseorang yang timbul akibat luka batin, sehingga menjadi seorang penakut, merasa terabaikan, dan memandang semua yang berada di sekitarnya terasa menyakitkan.

Seseorang saat masa kecilnya sering diabaikan sebagian setelah dewasa akan merasakan ketakutan akan kesendirian, terisolasi dan merasa tidak terlindungi dan ada rasa takut ditolak. Beberapa orang yang memiliki luka batin akan terlihat cepat panik atau tegang dan sering merasa cemas. Setiap kali medengar suatu peristiwa yang menurutnya menakutkan, maka kecemasan akan timbul pikiran negatif, akan terjadi sesuatu yang buruk terhadap dirinya.

Ada sebagaian lagi yang mengalami kesulitan tidur dan sering mengalami mimpi buruk yang terus menerus. Sebagian juga ada yang tidur awal dan bangun terlalu pagi, gemetaran, jantung berdebar lebih kerasa dari biasa kesulitan bernafas (sesak) hingga pingsan, pusing yang terus menerus, mudah sakit, bersikap keras, sering marah yang meledak-ledak dan mudah tersinggung.

Luka Batin Sering Seringkali Bersemayam dalam Inner Child

Setiap orang mempunyai sisi kepribadian yang terbentuk dari pengalaman masa kecil, disebut inner child. Ada yang mengartikannya sebagai sosok anak kecil yang melekat dalam diri seseorang. Hingga seseorang dewasa, anak kecil dalam dirinya tidak akan pernah pergi dan menetap di pikiran bawah sadar. Ia dapat mempengaruhi seseorang dalam membuat keputusan, merespon masalah, dan menjalani kehidupan.

Seseorang yang mempunyai pengalaman tidak menyenangkan atau kurang pengasuhan dalam keluarga saat masih kanak-kanak, dapat terus membekas dalam diri seseorang menjadi luka batin. Saat tumbuh dewasa, pengalaman pahit di masa kanak-kanak bermanifestasi dalam berbagai bentuk perasaan dan prilaku negatif, seperti perasaan tidak dicintai, mudah cemas, sulit percaya orang lain, dan lain sebagainya.

Inner child yang mempunyai luka batin ini, jika terus dibiarkan akan berefek pada perkembangan diri. Umur bertambah tua, tapi faktanya seseorang tak semuanya menjadi dewasa. Seseorang akan dewasa sejati, apabila sudah menyadari dan menyembuhkan “anak kecil” dalam diri dari rasa sakit, trauma, dan  amarah.

Namun faktanya, tak sedikit orang yang justru menyangkal dan mengabaikan luka batin pada inner child-nya, sehingga terbawa hingga ke kehidupan dewasa. Saat dihadapkan pada masalah hidup, inner child yang masih bersemayam ini bisa mencuat ke permukaan dan mengambil alih kendali dalam diri Anda.

Inner Child yang Terluka dan Fanatisme

Sekurang-kurangnya ada tiga penyebab seseorang bisa menjadi orang fanatik, antara lain;

Kurang Pergaulan

Pergaulan yang kurang akan membuat seseorang merasa sensitif terhadap perbedaan. Karena itulah pergaulan yang luas itu penting. Sebab dengan mengenal orang dari berbagai latar belakang maka seseorang akan lebih terbiasa dengan keberagaman dan lebih bisa menerimanya.

Kurang Wawasan

Wawasan juga mampu membuka pikiran kita, membuat kita mampu menalar sesuatu dengan kritis, dan mampu mengasah logika kita. Orang yang wawasannya sempit akan membuatnya terkurung dalam cangkang kebenarannya sendiri. Membuat pikirannya tertutup pada dunia luar yang memiliki keberagaman cara pandang dan budaya. Maka dari itu, penting bagi seseorang untuk memiliki wawasan yang luas.

Kurang Empati

Kurangnya empati yang disebabkan oleh merasa benar yang berlebihan. Perasaan benar yang berlebihan dapat membuat orang tidak toleran dan tidak mampu menerima pendapat orang lain yang berbeda. Merasa benar berlebihan juga membuat seseorang tidak punya rasa empati pada sudut pandang orang lain.

Khusus untuk sebab yang ketiga merupakan point penting dalam bahasan ini. Pada fenomena akhir-akhir ini, fanatisme antara dua kubu (Cebong dan Kampret) mengarah pada fanatisme kepada salah satu figur yang terlanjur diimani sebagai orang yang benar. Asumsi terhadap figur yang dianggap mewakili kebenaran ini juga menambah masalah semakin runyam. Alih-alih berempati pada kebenaran dari setiap pandangan dari kedua belah pihak, ternyata tertolak karena rasa benci yang terlanjur berkerak dan rasa cinta yang membabi buta kepada figur panutannya.

Setiap yang ditawarkan oleh kubu Cebong akan ditolak dengan menyajikan sejumlah hoak oleh kubu Kampret, demikian juga sebaliknya. Yang beda pandangan dianggap salah, bahkan semuanya salah, yang boleh benar hanya dirinya sendiri dan kelompoknya. Menurut Saya, inilah salah satu contoh dari merasa benar berlebihan yang menjadikan seseorang fanatik buta. Tentu watak seperti ini, merupakan delusi atau penyimpangan psikologis.

Membahas tiga sebab orang menjadi fanatik di atas, mengingatkan Saya kepada salah satu teman, saat Saya menjelaskan tentang “luka batin”, ia mengajukan salah satu pribahasa Madura, untuk menyederhanakan penjelasaan Saya yang panjang lebar, yaitu “ajher ka ollenah”. Artinya, bahwa setiap orang akan belajar pada apa yang diperolehnya. Jadi, seberapa luas pergaulan, wawasan dan “empati” seseorang, akan menentukan seberapa “terbuka” seseorang pada keragaman cara pandang. Wallahu a’lam bi Al-Shawaab

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close